Category Archives: opini

Menjaga Sirah, Sumber Mata Air Bersama

“Alhamdulillaaah”…

Demikian sambutan almarhum mbah kakung, saat aku masih kecil. Ketika kami tiba di muka pintu rumah beliau. Beliau biasanya sedang duduk di beranda, mengenakan sarung dan kaus oblong putih, duduk bersila di atas kursi rotan, dengan segelas besar teh tubruk gula batu. Terkadang uap teh-nya masih mengepul.

Hampir setiap tahun aku, kakak, ibu, dan almarhum bapak-ku mudik ke rumah mbah kakung di Merden. Aku biasa memanggil beliau mbah kakung Merden. Beliau adalah bapaknya ibu. Di Merden, hampir semua tetangga adalah saudara dari mbah kakung dan atau mbah putri. Beserta keluarganya. Aku sendiri juga tidak hafal semua. Saudara sepupu sendiri juga terkadang suka terbalik. Maklum, Ibuku sembilan bersaudara. Ibu adalah anak ke-5.

Desa Merden, Banjarnegara, Jawa Tengah

Desa Merden, Banjarnegara, Jawa Tengah

Mudik ke Merden, adalah sebenar-benarnya mudik. Rumah mbah kakung di Merden, dikelilingi kebunnya yang luas. Jauh dari tetangga terdekat. Kalau malam tiba, kadang ngeri juga. Tapi di Merden selalu ada banyak aktivitas yang tidak bisa ditemui di Jakarta. Banyak kegiatan masa kecil di Merden yang bisa aku ingat. Misalnya, saudara-saudara sepupu yang laki-laki selalu berlomba menyalakan petromaks di waktu malam. Saat malam takbiran, kami takbir bersama dan menyalakan kembang api.

Pagi hari kami biasanya berlomba pergi ke pemandian air di dekat sungai atau kolam air. Apalagi jika lebaran bertepatan dengan musim kemarau. Sumur mbah kakung yang dalamnya bisa mencapai 25 meter, tidak akan cukup memenuhi kebutuhan mandi cucu-cucunya. Apalagi untuk mencuci. Sehingga mandi di sungai atau pemandian, adalah pengalaman masa kecil yang tidak terlupakan. Kami, cucu-cucu mbah kakung, suka menjelajah semua tempat pemandian air dan sungai. Sekedar bermain air, sholat di mushola kecil dekat sawah dan pemandian, hingga mandi dan cuci baju.

Desa mbah kakung ini terletak di Banjarnegara, Jawa Tengah. Sebetulnya desa ini menyimpan kekayaan berupa kapur, pasir putih, dan batu marmer. Masih segar dalam ingatan, waktu kecil aku mudah menemui bongkahan batu marmer di jalan. Namun desa ini sulit mengakses air bersih. Seiring berjalannya waktu, kekayaan marmer berkurang, kapur dan pasir putih pun hampir habis ditambang. Meski jalan utama sudah diaspal dan setiap tahun jalan sering ditambal, listrik juga sudah masuk hingga ke pelosok, desa Merden masih kesulitan air bersih.

Air bersih hanya bisa diakses di bulan September – Maret. Jika musim kemarau tiba banyak sumur yang kering. Sekitar bulan Juni – Agustus sulit sekali mengakses air bersih. Rumah yang memiliki sumur dengan kedalaman lebih dari 25 meter bisa mendapatkan air, itu pun hanya sedikit.

Pegunungan di sekitar desa yang berupa tanah kapur, menyebabkan air di sekitar pegunungan tidak layak konsumsi. Mengandung terlalu banyak kandungan kapur, tidak layak minum, dan bersifat basa. Tidak baik bagi kesehatan. Banyaknya penambangan di pegunungan, menyebabkan ratusan hektar tanah di pegunungan gundul. Tak ada pohon keras. Sehingga rawan longsor dan langka air bersih.

Selama bertahun-tahun masyarakat terbiasa mengakses air bersih dari lembah. Banyak pemandian dan mata air yang berada di lembah. Salah satunya adalah mata air sirah. Demikian masyarakat lokal memberi nama. Mata air (sirah yang berarti kepala) ini adalah mata air terbesar di desa Merden. Konon mata air ini tak pernah surut meskipun kemarau tiba. Mata air ini banyak dialirkan ke beberapa pemandian di lembah. Airnya bening dan segar.

Ibu-ku yang kini tinggal di rumah peninggalan mbah kakung, pernah memiliki niatan untuk mengelola sekaligus menjaga kemurnian mata air sirah ini untuk kebutuhan air bersih masyarakat desa. Seiring berjalannya waktu, ternyata ada juga pemuka masyarakat yang berpikir sama seperti ibu. Lalu pada tahun 2009-2010 datang bantuan material dari lembaga nirlaba Nurani Dunia. Warga pun gotong royong membuat saluran pipa air. Mata air sirah di bawah lembah, dipompa ke tempat yang lebih tinggi. Kemudian ditampung dalam tangki-tangki besar.

Tidak hanya menampung air dari mata air, warga juga gotong royong membuat saluran pipa air dari penampungan ke rumah-rumah. Penyediaan air bersih ini dinamakan SAB, atau Sarana Air Bersih. Semacam PDAM lokal, di desa Merden. Setiap warga juga dikenakan biaya untuk perawatan sarana air bersih bersama ini.

Selain mata air Sirah, ada satu lagi mata air yang digunakan SAB Merden yakni mata air Rawawungu. Kedua mata air ini telah menyediakan air bersih bagi penduduk desa Merden. Hingga kini sudah banyak keluarga yang tidak lagi kesulitan air bersih di desa Merden. Meski beberapa warga masih ada yang suka mandi dan cuci baju di pemandian. Kata ibu, masih tersisa dua RT (Rukun Tetangga) yang belum dapat akses air bersih dari SAB.

Namun untuk mendapatkan air bersih yang layak minum, banyak warga masih menggunakan air sumur yang dimasak menggunakan kompor. Air SAB biasanya digunakan untuk keperluan mandi, cuci, dan kakus. Sebab jika pipa SAB ada masalah, terkadang airnya keruh. Pernah saat Alfis berlibur ke rumah eyangnya, air SAB sedang keruh. Alhamdulillaah tidak lama. Esoknya sudah kembali jernih.

Alfis mandi di pancuran baru, setelah ada Sarana Air Bersih (SAB).

Alfis mandi di pancuran baru, setelah ada Sarana Air Bersih (SAB) di Merden.

Ibu, eyangnya Alfis, juga masih menggunakan air sumur untuk minum dan masak. Sebab masih khawatir air SAB di jalan terkontaminasi beragam bakteri, jamur, atau kotoran lain yang mungkin saja masuk melalui celah-celah pipa.

Memurnikan air dengan metode mendidihkan air adalah yang paling sederhana diantara teknologi pemurnian air lainnya. Warga juga harus siaga dengan kejernihan air. Jika airnya keruh atau kotor, maka air harus diendapkan terlebih dulu atau disaring menggunakan batuan dan pasir hitam dari gunung. Dan mendidihkan air tetap harus dilakukan agar air bebas dari kuman berbahaya, sehat, dan layak minum.

Jika warga desa memiliki teknologi pemurni air yang lebih baik, seperti penjernih air Pure-It, tentu warga dapat menggunakan SAB sebagai sumber air minum juga. Sebab teknologinya memiliki empat tahap pemurnian.

Pertama, saringan serat skala mikro untuk menghilangkan kotoran. Kedua, filter karbbon aktif untuk menghilangkan parasit dan pestisida yang mungkin masuk melalui pipa SAB. Ketiga, terdapat prosesor pembunuh kuman. Adanya teknologi pembunuh kuman, bakteri, dan virus ini maka air tidak perlu lagi dimasak. Dan yang terakhir adalah penjernih. Agar air jernih dan tidak berbau.

Edukasi tentang teknologi pemurnian air ini tentu harus dilakukan. Sebab tidak semua warga desa berpendidikan tinggi. Kebanyakan berprofesi petani dengan latar belakang pendidikan SD-SMP. Jarang yang menempuh SMA hingga perguruan tinggi. Kalaupun ada yang menempuh pendidikan tinggi, kebanyakan tidak hidup di desa.

Warga juga harus diedukasi tentang pelestarian sumber daya alam di sekitarnya, khususnya air. Karena itu belakangan sedang diusahakan reboisasi pegunungan di sekitar desa Merden. Agar air tanah dan mata air tidak habis. Sementara ibu-ku sedang menjalankan sekaligus mengedukasi ibu-ibu pengajian tentang pertanian dan peternakan alami. Yakni pertanian tanpa menggunakan pupuk kimia, pestisida, herbisida, atau obat-obatan kimia lain. Sehingga air sungai dan air tanah juga bebas pestisida atau obat kimia berbahaya.

Cerita mbah kakung dulu, mata air sirah dinamakan demikian sejak zaman Surya Yudha. Atau zaman sebelum perang Diponegoro. Sirah berarti kepala. Karena mata air ini letaknya di atas desa. Dan mungkin juga dinamakan demikian agar warga desa menjaga dan melestarikan baik-baik “sirah”nya. Siapa lagi yang akan menjaga kelestarian sumber air bersih dan kesehatan air minum desa, jika bukan warganya sendiri. Lagipula, kita akan selalu menjaga baik-baik kepala kita bukan?

2 Komentar

Filed under opini

Bayi Digital di Persimpangan Generasi Broadband

Ini kali ya yang namanya bayi digital? Masih di kandungan sudah disodori lagu-lagu dari MP3 player. Ada aneka pilihan dari lagu klasik yang katanya bisa bikin pintar otak bayi kelak, nasyid biar jadi anak yang soleh, sampai lagu slowrock biar gaul nantinya. Eh, begitu sejam mbrojol ke dunia, sudah langsung sadar kamera. Seperti itulah kira-kira gambaran anak pertama kami, Alfis Antares, yang lahir 17 September 2008 silam.

Teori di buku, bayi baru lahir kelopak matanya terlihat sembab dan terpejam karena melindungi matanya dari cahaya terang. Tidak demikian dengan dia. Beberapa menit setelah lahir, dia langsung tersenyum melihat ayahnya yang sedang mengambil gambar dirinya. Lihat saja hasilnya.

Satu jam setelah lahir Alfis tersenyum saat difoto Ayah

Tidak hanya sadar kamera, di umur kurang dari seminggu, Alfis juga sudah sadar gadget. Pasalnya si ayah bukan membelikan mainan kricikan (yang bunyinya icik-icik itu lho), tapi malah disodori video iklan di BlackBerry 8820 yang dipakainya. Alhasil, video iklan BB selalu menjadi andalan ayah kalau Alfis rewel. Kalau nangis tinggal nyalakan video dan voila… tangisan pun langsung reda berganti wajah serius entah heran, bingung, senang, atau kaget.

Di usianya yang masih kurang sebulan, ayahnya tidak hanya mengenalkan video di BB, tapi juga mendekatkan lagu-lagu MP3 menggunakan iPod. Ya… akhirnya stimulasi terhadap suara dan gerak melalui BB dan iPod. Ke mana-mana benda ajaib itu harus dibawa dan jadi teman popok, minyak telon, bedak, dan tetek bengek peralatan wajib buat bayi.

Karena sering berinteraksi dengan barang-barang digital, Alfis jadi fasih sekali pegang gadget yang satu ini. Pernah suatu saat ketika umurnya 16 bulan, ia harus opname di rumah sakit karena infeksi pencernaan. Salah satu tangannya harus diinfus. Hampir setiap saat Alfis menangis atau berusaha melepas infusnya. Apalagi kalau ada suster yang masuk ke ruang rawat. Pasti dia nangis dan memeluk bundanya erat-erat.

Lagi-lagi, hiburan apa yang bisa membuatnya tenang kalau bukan BlackBerry. Sementara tangan kirinya diinfus, tangan kanannya asyik memutar dan memencet trackpad. Entah apa yang dilakukannya, pokoknya dia anteng dan langsung ceria, sibuk dengan BB-nya. Hihihi… update status Facebook ya? Dasar bayi zaman sekarang. Ayahnya pun tak melewatkan kesempatan mengabadikan momen ajaib itu dan wus wus wus langsung diupload ke internet.

biar sakit, update status jalan teruss

Tidak hanya BlackBerry dan MP3 Player, Alfis juga sudah kenal laptop sejak usia di bawah dua tahun. Awalnya kenal laptop ketika dia sudah dapat duduk sendiri. Itu juga gara-gara ada video bayi di YouTube yang tertawanya lucu banget sampai terbahak-bahak. Ayah menunjukkan video itu kepada Alfis, dan ternyata Alfis juga jadi ikutan ketawa ngakak. Sejak itu, Alfis jadi sering merecoki ayahnya kalau ketahuan buka laptop. Hmm mulai jatuh cinta ke laptop nih.

lihat lanjutannya, Alfis mengoperasikan laptop dan ponsel touch screen

19 Komentar

Filed under aktivitas, alfis, opini

Menjaga Privasi

ah membaca artikel di Kompas.com, jadi terpikir apa aku sudah menjaga privasi dengan baik?

Sebagai netizen (hiaaaa baru dapat istilah ini dari artikel kompas.com), aku tak dapat menahan diri untuk berbagi cerita di dunia internet, di dunia blog tentunya, tentang perkembangan Alfis.

Sebagai emak-emak, eike termasuk yang sueneng banget mengabadikan momen-momen yang (menurutku) lucu dan unik di blog atau di jejaring sosial. Kalau dulu, ibu-ku menggunakan kaset untuk merekam suara ocehanku saat sebesar Alfis. Yang notabene kasetnya dah rusak berat. Dan menggunakan kamera analog untuk mengabadikan aktivitas dan perkembanganku.

Sekarang, sudah ada fasilitas kamera-video di ponsel. Tinggal rekam atau jepret. Selesai. Mau di-upload di youtube atau mau disimpan saja di ponsel. Itu pilihan. Daan… aku memilih yg mana yg bagus untuk di-upload.

Kembali ke privasi, jadi terpikir deh. Kira-kira Alfis marah ga ya perkembangan dia saat kecil dipublish di blog bunda-nya ini?
Hmmm…Maaf ya Alfis, bunda hanya ingin berbagi dengan ibu-ibu lainnya. Siapa tau mereka juga bisa belajar dari pengalaman kita. Karena bunda pun belajar dari pengalaman mereka.

Privasi memang patut dijaga. Apalagi saat ini marak penyalahgunaan internet. Bahkan di Amrik sana, ada yang menyalahgunakan media jejaring sosial untuk pedofil. Serem banget.
Waspadalah! Waspadalah!

Menjaga privasi itu…seperti beribadah. Saat kita mendekatkan diri pada Allah SWT, hanya diri ini dan Allah yang tahu. Begitu juga dengan data diri yang detil, hanya diri ini dan keluarga dekat yang tahu. Aktivitas sosial tetap berjalan, namun tidak mengumbar-ngumbar privasi sendiri. Bisa rugi. Beribadah pun kalau diumbar-umbar untuk mendapat perhatian orang lain tidak bernilai di mata Allah SWT. Tidak dapat pahalanya.

Karena itu, sebisa mungkin aku tidak memberikan keterangan detil yang bersifat pribadi. Apalagi di jejaring sosial. Jejaring sosial hanya sebagai sarana silaturahim dengan kawan-kawan lama yang memang sudah pernah bertemu. Atau kawan baru yang sudah cukup kenal. Yang lain, tidak di-accept. Sementara di blog atau email, sebisa mungkin berhati-hati dalam mem-posting. Hindari curcol alias curhat colongan yang berlebihan. Bisa mengakibatkan bumerang di kemudian hari. (Inget kasus prita deh).

Berikhtiar dengan cara menjaga privasi merupakan langkah preventif. Untuk Internet yang lebih sehat. Khususnya bagi para remaja dan ABG.

Lagipula, males deh kalau lagi santai tiba-tiba ada yang telpon ternyata nawarin produk atau iming-iming hadiah hanya gara-gara mengumbar nomer ponsel pribadi atau nomer rumah. Mengganggu. Cukuplah Alfis yang mengganggu bunda-nya.

Tinggalkan komentar

Filed under opini

Selamat Hari Blog Nasional

Katanya, hari ini hari blog nasional ya??? Selamat nge-blog.
Semoga blogger Indonesia dapat berkontribusi memperkaya khasanah budaya Indonesia.
Untuk Indonesia yang lebih baik.

#Pray for Indonesia#

Semoga Indonesia menjadi lebih baik setelah diserang beragam bencana.

5 Komentar

Filed under opini

Internet Sehat, Generasi Sehat

Malam pertama menjadi ibu saat pemulihan di rumah sakit, saya tidak bisa tidur. Perasaan tidak tenang. Ada saja yang dipikirkan. Gelisah. Karena peraturan di RS tempat saya bersalin, ibu yang melahirkan normal dilarang ditunggui. Mungkin supaya si ibu bisa istirahat total kali ya?

Tapi karena peraturan itu, saya malah tak dapat istirahat dengan tenang. Ditambah lagi, bayi saya tidur di ruang bayi. Baru diantar saat dia ingin menyusui. Dan saya pun semakin gelisah, karena ASI belum lancar.

Bingung. Itu yang pertama dirasa. Harus bagaimana saya sebagai seorang ibu? Apakah saya menyusui dengan benar? Apa benar ASI saya sudah keluar? Dan banyak pertanyaan lainnya.

Alhamdulillaah, ada internet. Saya berasa terhubung dengan ibu-ibu di dunia yang sudah berpengalaman(Lebaay). Suami saya memilih meminjamkan BB-nya dibanding membelikan buku atau majalah tentang ibu-anak. Mungkin karena dia tidak ada waktu kali ya? Saat itu BB-nya bener-bener baru. Baru dipinjemin kantor. Masih tersegel rapi saat pertama dibawa. Alhasil, di malam berikutnya atau jika sedang tak ada teman, titel saya saat itu yakni: googling mom dan browsing mom. Membaca dan mencari segala kamus A-Z tentang ibu dan bayi. Melahirkan Alfis adalah pengalaman pertamaku menjadi ibu. Maka bacaan tentang bayi dan ibu kulahap.

Sayangnya, tidak semua informasi di internet baik. Saat googling atau searching, tidak semua website sesuai dengan kata kunci yang diinginkan. Misalnya saja; banyak website yang hanya memuat iklan-iklan. Lebih parah lagi iklannya adalah iklan porno. Jengah melihatnya. Kalau aku bisa mem-blok, aku blok website-website itu.

Selain itu, ada juga website yang hanya memuat link-link dari website lain tanpa ada informasi yang jelas. Dan ketika link tersebut di-klik, tidak juga tersambung ke tulisan yang dimaksud. Tetapi malah berbalik kembali website semula. Sebagai pencari informasi, jelas saja saya kesal. Ternyata website itu memang hanya bertujuan dikunjungi banyak orang. Istilahnya apa yaa?? Website gadungan kali ya??

Hingga Alfis kini menginjak usia 2 tahun, internet tetap menjadi andalan utama mengakses informasi tumbuh kembang anak.
Tidak hanya itu, saya juga memanfaatkan situs pencarian gambar untuk mengenalkan benda-benda, hewan, alat transportasi, dan lainnya untuk menambah kosakata dan pengetahuan Alfis. Alfis juga senang melihat gambar- gambar di komputer.

Dan kini saya mengarsipkan kehidupan saya sebagai ibu dan menuliskan setiap milestone anak saya di blog. Saya juga kini sering blog walking. Khususnya blog bunda-bunda lainnya. Banyak informasi, cerita, sharing, dan pengalaman hidup orang lain di blog yang dapat menjadi inspirasi hidup saya. Banyak bloggers dan blogger-mom yang banyak menuliskan renungan spiritual. Rasanya seperti diingatkan setiap kali membaca blog tersebut.

Dan seperti koin yang memiliki dua sisi, internet punya sisi negatif dan positif. Internet dapat mendorong kegiatan-kegiatan positif jika penggunanya menggunakan secara bijak. Sayangnya, ada saja yang menyalahgunakan internet sebagai media kejahatan, penipuan, pornografi, penculikan dan hal-hal lain yang tidak tega aku sebutkan.

Sebagai pengguna internet dan blog, serta sebagai ibu, saya mendukung setiap langkah, kebijakan, komunitas, perangkat lunak, sosialisasi atau apapun bentuknya agar internet menjadi lebih sehat. Agar anakku kelak menjadi generasi yang sehat. Tidak hanya sehat badannya. Namun juga sehat budi pekerti, akhlak, moral, dan pikirannya.

Doa saya, semoga kehidupan, budaya, dan dunia menjadi lebih baik dengan menyehatkan media informasi. Terutama internet. Sebagai media utama masa depan.

9 Komentar

Filed under opini

Selamat Syawalan…

bersama eyang uyut di Bantul

Hihihi…
Berhubung telat, lama ga posting, jadi ngucapin Selamat Syawalan. Bukan Idul Fitri. Maaf lahir batin ya.

Selama libur lebaran kemarin, aku officially off dari jagad maya. Kembali ke padepokan di kampung, menjalani sholat ied, silaturahmi, dan program menyapih.

Alhamdulillaah. Ketiganya berjalan baik. Bertemu banyak sanak famili dan menyapih pun berjalan mulus. Aku akan merindukan lebaran tahun ini. Ketemu dengan banyak saudara yang sudah lama ga ketemu.

Hayoo hayoo… Saatnya membaya hutang (Buat yang ngutang puasa). Supaya ga kelamaan, mending dibayarnya cepetan. Mumpung masih inget. #mengingatkan diri sendiri#.

Selamat syawalan, bagi yang menjalankan puasa sunah di bulan Syawal… 🙂

Tinggalkan komentar

Filed under cerita keluarga, opini

Tragedi Flotilla

foto: Mer-C.org


Beberapa hari ini berita tentang Israel menyerang kapal bantuan kemanusiaan untuk Gaza terus bergulir. Sebab dalam insiden tersebut dilaporkan 20 orang relawan tewas. Selain itu, dalam kapal tersebut terdapat 12 WNI yang juga ikut dalam misi kemanusiaan tersebut.

Dunia pun kembali disentakkan oleh kebrutalan Israel. Berita yang beredar menyebutkan bahwa tragedi ini bukan lagi atas nama agama atau ras, atau golongan tertentu. Tapi tragedi ini adalah kejahatan atas nama kemanusiaan. Karena di kapal tersebut memuat bantuan kemanusiaan serta relawan-relawan yang berniat membantu rakyat Palestina di Gaza.

Saat ini, yang bisa kulakukan hanya berdoa dan terus berdoa. Dan tentunya bersyukur. Karena Allah SWT benar-benar telah memberikan banyak sekali berkah dan rezeki di negeri ini.

Andai aku bisa, melalui negeri ini, berkontribusi pada perdamaian di dunia ini.

Tapi lagi-lagi aku hanya bisa berdoa…

Semoga Allah memberikan KEKUATAN dan KEMUDAHAN…

Tinggalkan komentar

Filed under flotilla