Category Archives: berbicara

Terlambat Bicara

Alfis sudah bisa membedakan warna. Lihat tuhh dindingnyaa 🙂

Alfis saat ini berumur 26 bulan. Dia mulai menunjukkan perkembangan kosakata. Sudah mulai mengenal warna, huruf, dan beragam permintaan/perintah sederhana. Dia juga sudah mulai bisa memanggil nama teman-temanya. Meski tidak memanggil dengan keras. Sempat khawatir saat dia berumur 15 bulan belum ada satu kata. Hanya babbling. Bahkan 18 bulan baru ada sedikit kata saja. Mau sharing sedikit mengenai terlambat bicara ini. Setelah browsing sana-sini, ini dia sekelumit tentang terlambat bicara.

Apa sih penyebab terlambat bicara?

Ada tiga penyebab utama keterlambatan bicara
pertama, retardasi mental,
kedua, gangguan pendengaran,
ketiga, keterlambatan maturasi atau keterlambatan bicara fungsional, termasuk gangguan paling ringan dan saat usia tertentu akan membaik.

Penyebab lain yang relatif jarang adalah kelainan organ bicara, kelainan genetik atau kromosom, autis, mutisme selektif, afasia reseptif, dan deprivasi lingkungan. Deprivasi lingkungan bisa disebabkan oleh lingkungan sepi, dua bahasa, status ekonomi sosial, teknik pengajaran yang salah, dan sikap orangtua.

Deteksi dini

Sejak bayi baru lahir, sebisa mungkin kita sebagai orang tua mencatat setiap perkembangan dan respon bayi. Bahkan sejak bayi masih dalam kandungan. Karena semua informasi perkembangan ini dibutuhkan oleh para dokter dan profesi yang terlibat dalam mendeteksi keterlambatan bicara tersebut. Apakah bersifat fungsional atau nonfungsional?
Karena itu milestone sangat diperlukan. Misalnya;

Riwayat kehamilan. Apakah kehamilan bermasalah atau tidak. Kalau bermasalah, apa masalahnya.

Kelahiran. Apakah lahir normal atau caesar. Apakah lahirnya tepat waktu atau lebih cepat, atau lebih lambat. Bagaimana posisi bayi saat melahirkan. Saat bayi lahir bagaimana kesehatannya? Apakah langsung menangis atau harus distimulasi dulu baru menangis?

Perkembangan bayi. Catat setiap perkembangan atau respon bayi terhadap lingkungannya. Misalnya, kapan pertama kali tengkurap sendiri, kapan bisa miring sendiri, umur berapa dia mulai babbling, kapan pertama kali duduk sendiri, kapan pertama kali merayap dan atau merangkak, kapan dia mulai mengulang-ngulang kata (meski belum berarti apa-apa), bagaimana responnya terhadap suara, bagaimana responnya jika dipanggil, bagaimana responnya saat dimainkan suara pelan, riwayat kesehatan, alergi, dan sebagainya. Karena setiap perkembangannya sekecil apapun itu, informasinya sangat dibutuhkan untuk menangani atau mendeteksi lebih lanjut keterlambatan bicara pada anak.

Hubungan keluarga. Apakah dalam keluarga ada riwayat terlambat bicara atau tidak.

Lingkungan. Apakah lingkungan terlalu sepi atau terlalu ramai. Ada dua bahasa atau tidak. Stimulasi dari orangtua bagaimana, stimulasi dari keluarga bagaimana.

Selain mengungkapkan jenisnya, deteksi dini dapat mengoptimalkan penanganan selanjutnya.

Jenis Fungsional

Keterlambatan bicara fungsional atau keterlambatan perkembangan bahasa ini disebabkan oleh terlambatnya kematangan proses syaraf pusat yang dibutuhkan untuk memproduksi kemampuan bicara. Gangguan ini sering dialami anak laki-laki. Kondisi ini cukup ringan dan bisa membaik. Umumnya, anak-anak dalam kondisi ini fungsi reseptifnya baik. Seperti Alfis, dia sangat mengerti apa yang kita bicarakan. Bahkan dia bisa disuruh hanya dengan kata-kata, tanpa menunjuk. Misalnya “ambil sepatu ayah di dapur” atau ” buang di tempat sampah” atau “ambil gelas di dapur”. Visualnya pun sangat bagus. Dia tahu logo Piala dunia (pasti langsung bernyanyi Owowowo sambil loncat2), logo Firefox (langsung menunjuk komputer), logo Bank (menunjuk kartu ATM), dsb.

Ciri khas lainnya, anak tidak menunjukkan kelainan neurologis, gangguan pendengaran, gangguan kecerdasan, dan gangguan psikologis. Keterlambatan bicara fungsional sering dialami anak dengan gangguan alergi, terutama pada kulit dan saluran cerna.

Gangguan saluran cerna berupa gejala berulang dari perut kembung, sering buang angin, muntah, dan sulit buang air besar (BAB). Kesulitan BAB ditandai oleh BAB ngeden; tidak setiap hari; kotoran berbau, hitam atau hijau tua, keras, dan bulat seperti kotoran kambing; ada riwayat berak darah; serta lidah tampak kotor, berwarna putih, air liur bertambah banyak, atau mulut berbau.

Gangguan kulit biasa muncul dalam bentuk bintik-bintik kemerahan, seperti digigit nyamuk atau serangga, biang keringat, dan kulit berwarna putih (seperti panu) di wajah atau di bagian badan lainnya. Hal itu sering pula disertai gangguan tidur malam, gelisah, mengigau, tertawa atau menangis saat tidur, sering terbangun, gigi gemeretak, dan sebagainya.

Jenis nonfungsional

Keterlambatan bicara jenis non-fungsional seperti gangguan pendengaran, retardasi mental, atau penyebab lainnya perlu stimulasi dan intervensi khusus sesuai penyebabnya. Salah satu blog yang cukup mencerahkan dan ilmiah adalah blog Ibu Julia Van Tiel. Beliau menulis buku “Anakku Terlambat Bicara”. Banyak penjelasan ilmiah disana. Agar tidak bias antara autis dan bukan autis. Karena saat ini banyak profesional dan dokter terlalu dini men-cap anak sebagai Autis. Perlu pendekatan multidisiplin ilmu untuk gangguan non fungsional ini. Antara lain, dokter ahli tumbuh kembang anak, neurologi anak, gastroenterologi anak, alergi anak, psikologi anak, psikiater anak, rehabilitasi medik, serta mereka yang bergerak di bidang klinis atau praktisi lain yang berkaitan.

Sumber: Kompas.com, gaya hidup sehat

Tulisan terkait

23 Komentar

Filed under alfis, berbicara, tumbuh kembang

Mengelompokkan Fonem (Lafal)

Banyak anak-anak seumuran Alfis (khususnya anak perempuan) sudah lancar berbicara. Perbendaharaan katanya pun sudah banyak. Kadang, aku cemas dengan perkembangan bahasanya Alfis. Sampai sekarang, dia belum juga mau panggil “bunda” atau “ayah”. Dia malahan panggil bundanya dengan : “maaahmaaah”… dengan lafal “a” yang mirip dengan “i”… jadi rancu, apa dia manggil bundanya dengan “mama” atau dia mau minta “mimik” . Agak membingungkan. Karena itulah belakangan ini aku intensif memperhatikan Alfis kalau sedang ingin main dan sedang terjaga. Berusaha sebisa mungkin berinteraksi dan mengarahkan supaya dia mau berbicara.

Pernah, aku ketemu anak seumur Alfis di Mall (cewe), sudah bisa panggil “bunda” dengan jelas. Sementara Alfis, kata-kata nya masih terbatas. Dan itu pun kata-kata yang lafal atau fonemnya mirip. Misalnya:
“Ada”
“Ngga ada”
“Mana”
“Aduh”
“Jatuh”

Terkadang dia tiba-tiba bilang;
“Ikuuum” : assalamu’alaikum
“Tuduatigaaaa” : satu,dua,tiga
“Oo..tudiaa” : ooo itu diaa…
Nah.. Kalo disuru diulangi lagi kata2 di atas, dia ga mau.

Tapi, kalo kata-kata yang lafalnya mirip, bisa tiap hari diulang-ulang.
Uniknya, Alfis sudah bisa merangkai kata-kata yang sering diucapkan misal: “ngga ada”, “aduh..jatuhh”, “ngga jatuh”.
Karena itulah aku menunggu, memperhatikan, sambil terus mencoba memberi stimulan yang biasa.

Setelah membaca tulisan disini dari portal balitakami, aku agak “lega” dan menunggu perkembangan Alfis selanjutnya.

2 Komentar

Filed under berbicara, tumbuh kembang