Buku: Totto-Chan, Gadis Cilik di Jendela

Baru mulai nulis di blog lagi. Postingan kali ini mau berbagi bacaan. Buku yang baru aja kubaca (lagi) sebetulnya buku lama. Jaman aku kuliah, buku ini  pernah best seller.

Pernah dengar Totto-chan? Ya… buku yang aku baca adalah cerita tentang serorang gadis kecil di Jepang yang bersekolah di bekas gerbong kereta.

Buku karya Tetsuko Kuroyanagi

Buku karya Tetsuko Kuroyanagi

Buku ini ditulis oleh Tetsuko Kuroyanagi, yakni si Totto-chan sendiri. Buku ini di Indonesia sudah masuk cetakan ke-12. Sementara di negaranya, di Jepang, buku ini jadi ‘buku wajib’ untuk mengajar di sekolah dasar.

Totto-chan adalah anak yang baik, hanya saja ia memiliki rasa ingin tahu yang besar. Hingga ia cukup merepotkan di sekolah lamanya. Dan ia pun harus dikeluarkan dari sekolah karena semua gurunya tidak bisa menangani kelakuan Totto-chan.

Mama Totto-chan bisa saja memarahi gadis kecil itu karena ia dikeluarkan dari sekolah lamanya. Namun mama memilih untuk merahasiakan hal tersebut hingga Totto-chan dewasa.

Mama beruntung menemukan sekolah Tomoe Gakuen. Sekolah yang menggunakan bekas gerbong kereta sebagai ruang kelas dan area sekolah dibatasi oleh beragam pepohonan tinggi, bukan dinding tinggi dan kaku.

Sekolah ini memfasilitasi beragam jenis karakter anak dan anak-anak disabilitas. Seperti salah satu teman Totto-chan yang polio.

Adalah Mr Sosaku Kobayashi, kepala sekolah sekaligus pendiri sekolah Tomoe Gakuen ini. Bagi murid-murid, kepala sekolah adalah orang dewasa yang sangat mereka sayangi.

Di Tomoe Gakuen,mereka memulai pelajaran sesuai dgn minat masing2.Ada yg memulai dgn bahasa,menggambar,fisika/ilmu alam, dll.

Membaca Buku Totto-Chan,kita spt mengalami sendiri sekolah di Tomoe Gakuen yg menyenangkan.Dan ikut merasakan serunya saat makan siang.

Kepala sekolah Kobayashi meminta orangtua untuk membekali anak dgn: ‘sesuatu dari pegunungan dan dari laut’.Jika ada anak di Tomoe Gakuen yg tdk membawa makanan dari laut atau dari pegunungan,istri Mr Kobayashi akan menambahkan lauk dari wajan laut atau gunung.

Tomoe Gakuen memiliki total 50 murid. Karena setiap makan siang mereka selalu bersama, kelas 1 – 6 semua saling kenal.Mereka saling membantu dan menghargai.

Di sekolah Tomoe Gakuen,waktu bebas lebih lama dibanding waktu belajar. Bahkan seminggu sekali mereka jalan2 ke kuil. Murid-murid tak pernah sadar mereka sedang belajar sesuatu.Karena mereka mempelajarinya sambil bermain.

Mr Kobayashi dapat membuat setiap anak didiknya merasa berharga, tidak dibedakan, percaya diri, baik, menghargai dan perhatian terhadap sesama apapun latar belakangnya.

Banyak sekali kegiatan sekolah Tomoe Gakuen yg jauh berbeda dari sekolah dasar di jaman itu. Mulai dr festival olahraga yg lucu,berkemah dalam aula,liburan musim panas di pantai, melihat gerbong baru, dan memasak bersama.

Kegiatan-kegiatan luar sekolah di Tomoe Gakuen mengajak para murid berbagi tugas, mandiri, saling tolong, kerjasama, dan punya inisiatif.

Saat berlibur bersama di pantai misalnya, semua anak memiliki tugas masing-masing. Setiap hari mereka bergantian ke pasar atau ke toko makanan dan mengambil ikan. Saat di pantai, mereka berkenalan dengan seorang nelayan yang sedang memperbaiki kapalnya. Mereka pun selalu melihat dan membantu pekerjaan si nelayan.

Membaca buku ini aku jadi memiliki bayangan seperti apa sekolah yang menyenangkan untuk anak-anak.

Di Tomoe Gakuen, setiap hari anak-anak selalu bersemangat pergi ke sekolah. Karena seperti tidak terjadwal, mereka setiap hari selalu menemukan hal menarik di sekolah.

Lalu aku pun melamunkan: seluruh sekolah dasar di Indonesia merombak kurikulumnya. Dan membebaskan murid belajar dari lingkungannya. Belajar mulai dari yang mereka senangi. Dan anak-anak pun belajar bertani dari petani langsung, belajar menangkap ikan dari nelayan, belajar melestarikan alam dan lautan dari mengamati dan bermain dengan alam.

Buku ini juga dapat dinikmati oleh anak-anak yang sudah dapat membaca. Karena gaya bercerita yang mengalir sederhana.

Rasanya, buku ini wajib dibaca oleh setiap ibu muda, pendidik, dan anak-anak. Agar kita semua dapat belajar dari Mr Kobayashi bagaimana menyenangkannya jadi anak-anak dan jadi diri sendiri…

About these ads

Tinggalkan komentar

Filed under Rekomendasi Buku

Berikan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s