Bayi Digital di Persimpangan Generasi Broadband

Ini kali ya yang namanya bayi digital? Masih di kandungan sudah disodori lagu-lagu dari MP3 player. Ada aneka pilihan dari lagu klasik yang katanya bisa bikin pintar otak bayi kelak, nasyid biar jadi anak yang soleh, sampai lagu slowrock biar gaul nantinya. Eh, begitu sejam mbrojol ke dunia, sudah langsung sadar kamera. Seperti itulah kira-kira gambaran anak pertama kami, Alfis Antares, yang lahir 17 September 2008 silam.

Teori di buku, bayi baru lahir kelopak matanya terlihat sembab dan terpejam karena melindungi matanya dari cahaya terang. Tidak demikian dengan dia. Beberapa menit setelah lahir, dia langsung tersenyum melihat ayahnya yang sedang mengambil gambar dirinya. Lihat saja hasilnya.

Satu jam setelah lahir Alfis tersenyum saat difoto Ayah

Tidak hanya sadar kamera, di umur kurang dari seminggu, Alfis juga sudah sadar gadget. Pasalnya si ayah bukan membelikan mainan kricikan (yang bunyinya icik-icik itu lho), tapi malah disodori video iklan di BlackBerry 8820 yang dipakainya. Alhasil, video iklan BB selalu menjadi andalan ayah kalau Alfis rewel. Kalau nangis tinggal nyalakan video dan voila… tangisan pun langsung reda berganti wajah serius entah heran, bingung, senang, atau kaget.

Di usianya yang masih kurang sebulan, ayahnya tidak hanya mengenalkan video di BB, tapi juga mendekatkan lagu-lagu MP3 menggunakan iPod. Ya… akhirnya stimulasi terhadap suara dan gerak melalui BB dan iPod. Ke mana-mana benda ajaib itu harus dibawa dan jadi teman popok, minyak telon, bedak, dan tetek bengek peralatan wajib buat bayi.

Karena sering berinteraksi dengan barang-barang digital, Alfis jadi fasih sekali pegang gadget yang satu ini. Pernah suatu saat ketika umurnya 16 bulan, ia harus opname di rumah sakit karena infeksi pencernaan. Salah satu tangannya harus diinfus. Hampir setiap saat Alfis menangis atau berusaha melepas infusnya. Apalagi kalau ada suster yang masuk ke ruang rawat. Pasti dia nangis dan memeluk bundanya erat-erat.

Lagi-lagi, hiburan apa yang bisa membuatnya tenang kalau bukan BlackBerry. Sementara tangan kirinya diinfus, tangan kanannya asyik memutar dan memencet trackpad. Entah apa yang dilakukannya, pokoknya dia anteng dan langsung ceria, sibuk dengan BB-nya. Hihihi… update status Facebook ya? Dasar bayi zaman sekarang. Ayahnya pun tak melewatkan kesempatan mengabadikan momen ajaib itu dan wus wus wus langsung diupload ke internet.

biar sakit, update status jalan teruss

Tidak hanya BlackBerry dan MP3 Player, Alfis juga sudah kenal laptop sejak usia di bawah dua tahun. Awalnya kenal laptop ketika dia sudah dapat duduk sendiri. Itu juga gara-gara ada video bayi di YouTube yang tertawanya lucu banget sampai terbahak-bahak. Ayah menunjukkan video itu kepada Alfis, dan ternyata Alfis juga jadi ikutan ketawa ngakak. Sejak itu, Alfis jadi sering merecoki ayahnya kalau ketahuan buka laptop. Hmm mulai jatuh cinta ke laptop nih.

Alfis suka berlagak mengetik di depan laptop seperti ayahnya sambil duduk. Biasanya ayahnya akan memberikan satu halaman notepad biar dia bebas mengetik-ngetik sesuka hatinya. Tapi, jangan kaget kalau intuisi bayi digital begitu cepat. Entah gara-gara mengamati cara orangtuanya, dia seperti tahu cara memindahkan kursor dengan touchpad. Jadilah, dia buka beragam aplikasi di komputer semaunya. Ya ampun diacak-acaklah komputer kami. kadang-kadang kalau lagi lengah, tombol power pun dipencet keras-keras. Jadi matilah komputer tanpa sekarat. Hilanglah semua data yang tak sempat disimpan ayahnya.

Alfis dan ayahnya sedang serius dengan laptopnya masing-masing

Ketika Alfis hampir dua tahun, ayahnya mulai mengenalkannya ke ponsel touch screen (layar sentuh). Sudah pasti Alfis pengen tahu mainan yang satu ini. Akhirnya dia pun diperlihatkan sang ayah beragam video dan permainan di ponsel. Awalnya hanya sebagai hiburan untuk Alfis. Hingga suatu saat, ketika bundanya sedang beberes rumah, tiba-tiba Alfis menunjukkan ponsel dan sudah membuka aplikasi game pesawat. Sambil berteriak “awwwaaatiiii!!…”.

Padahal, keadaan awal ponsel tersebut terkunci dan ada di menu awal. Alfis tidak memainkan game-nya. Dia hanya melihat pesawatnya terbang hilir mudik. Kalau pesawatnya nabrak, game over. Lalu permainan diulangi lagi dari awal. Dia sendiri yang memilih dan menyentuh menu di layar. Bundanya hanya disuruh melihat saja. Tidak boleh ikut campur. Kalau diminta dia merengek.

Kini, tidak hanya membuka game, Alfis juga ternyata sudah tahu cara membuka video di ponsel. Sering dia buka video rekaman dia sendiri, atau video lain yang di-download ayahnya.  Salah satu video yang digemarinya adalah soal perbaikan teleskop Hubble yang diambil ayah dari podcast Badan Luar Angkasa Amerika Serikat NASA. Entah apa yang disukainya dari video dokumenter itu, tapi yang jelas ia jadi sering minta “abel”. Video podcast Sesame Street kini juga jadi langganannya belajar angka, huruf, dan kata-kata Berbahasa Inggris.

Gara-gara nonton video-video dalam ponsel inilah beberapa kosakatanya jadi campur-campur. Kalau ditunjuk angka sembilan dia katakan nine gara-gara sering nonton trailer film Nine yang bertabur angka sembilan. Kalau ditunjuk hidung, dia katakan nose. Tapi kalau ditanya, “Hidung mana?” dia akan tunjuk hidungnya sendiri begitu juga dengan angak sembilan. Tapi berkat podcast Sesame Street, Alfis juga jadi cepat belajar alfabet. Meski acak, dia sudah tahu huruf A,F,S,N,M, dan O.

Alfis lagi nonton Sesame Street podcast

Yang membuat kaget, dia sudah bisa menelepon sendiri pakai ponsel touch screen. Tak tik tuk, jarinya dengan lihai menarik keylock di samping ponsel N900, pilih menu telepon, pencet nomor, dan pencet speaker. Terhubunglah…

Alfis: *sibuk pencet-pencet layar ponsel touch screen*
Sejurus kemudian, terdengar nada sambung via loudspeaker dan terjadilah percakapan ini:
Alfis : alooo??
Suara di seberang ponsel: halooo… alfis yaa??
Alfis: Ayaaaahhh…

Ayah: Alfis sudah makan belum?
Alfis: kan..
Ayah: Alfis makan pake apa?
Alfis: apa
Ayah: Ya udah. Dada…h
Alfis: Dadaaaahhh
Ayah: Assalamu’alaikum..
Alfis: ..kuumm…mmmuaaahhh…(sambil sun jauh ceritanya)
Ayah: Mmmuaahh

Begitulah kira-kira kalau Alfis telpon ayahnya. Dia tahu icon apa yang harus disentuh. Terkadang suka heran, kok dia tahu kalau itu nomor ayahnya. Padahal enggak ada settingan gambar ayahnya atau tulisan “AYAH”. Mungkin karena keseringan telpon ayahnya, jadi dia tinggal redial nomor terakhir atau jangan-jangan diam-diam dia menghapal cara bundanya saat menelepon ayah. Sering juga sih asal telepon eyangnya, pakdenya, bahkan teman-teman ayah bundanya.

Alfis sedang telpon siapa?

Selama ini komunikasi antara ayah dan Alfis yang paling efektif adalah lewat telepon. Apalagi kalau ayahnya sedang berada di luar kota. Alfis sering menirukan kata-kata ayahnya ketika ditelepon atau menelpon. Kini, Alfis dapat menjawab beberapa pertanyaan. Namun akan lebih baik lagi jika Alfis dapat melihat wajah ayahnya. Pernah juga Alfis menelepon ayahnya dengan video call. Sayangnya sambungan 3G di rumah masih putus-putus.

Andaikata teknologinya sudah 4G, mungkin Alfis bisa melihat wajah ayahnya tanpa putus-putus. Jadi, serasa ayahnya memang ada di depannya. Dengan demikian ayahnya pun bisa mengajari Alfis menjawab pertanyaan karena lihat Alfis sedang apa.

Kalau teknologi 4G ini baik, Alfis juga bakal bisa mengingat wajah eyang, pakde, dan omnya. Sehingga dia tidak lagi kaget kalau ketemu dengan mereka. Maklumlah, jarang-jarang ketemu. Eyangnya di Banjarnegara dan Kebumen, pakdenya di Bintan, sementara omnya di Bandung. Sebab, pernah suatu kali rambut omnya gondrong. Padahal Alfis tahunya rambut omnya pendek. Nah begitu omnya ke Jakarta, Alfis langsung nangis. Kaget kali ya? atau takut? Yang pasti, kalau teknologi 4G ini tarifnya murah, Alfis bisa sering-sering video call dengan ayah, eyang, pakde, dan omnya. Perbendaharaan katanya juga mungkin semakin banyak.

Tidak hanya itu, teknologi 4G ini juga memungkinkan beragam kebutuhan lain. Misalnya pakdenya Alfis di Bintan yang jarang pulang ke Jawa, rasa kangennya bisa terobati lewat video call dengan eyangnya Alfis atau dengan keluarga lainnya.

Contoh lain, di bidang pertanian. Kebetulan eyangnya Alfis adalah petani organik yang kelompok taninya berasal dari beragam daerah. Kelompok tani ini sering mengadakan pertemuan dan pelatihan di beragam tempat. Jika suatu waktu ada acara kumpul petani organik di luar daerah, eyangnya Alfis masih dapat mengecek pekerjaan di sawah atau kandang kambingnya di rumah via 4G. Teknologi ini juga bisa digunakan untuk keamanan rumah. Jika ada kamera CCTV di rumah, saat rumah kosong ditinggal mudik misalnya, bisa dilihat di ponsel melalui CCTV yang terhubung ke layanan 4G.

Sementara untuk hiburan di rumah, dengan teknologi tersebut kita hanya perlu satu layar untuk menonton TV sekaligus untuk komputer atau internet.  Sebab menonton TV bisa lewat sambungan internet. Sehingga tidak perlu memasang antena biasa yang gambarnya sering terganggu oleh cuaca. Dan tidak perlu dobel berlangganan TV kabel. Jadi hemat tempat dan budget kan? (hihi naluri ibu-ibu nih)

Kita juga bisa mengakses YouTube tanpa putus-putus. Teknologi 4G juga bisa digunakan pada saat hari raya Haji, kita bisa melihat keadaaan saudara atau orangtua yang sedang haji. Atau ketika memesan kambing kurban di kampung (bundanya Alfis sering pesan kambing ke eyang), bisa melihat si kambing yang dibeli. Dan bisa melihat proses pemotongan kambingnya. Dan sebagai salah satu ibu-ibu yang suka belanja dan cuci mata via toko online, dengan adanya teknologi 4G ini mungkin acara belanja online serasa belanja di toko biasa.

Persimpangan Generasi

Omong-omong tentang teknologi, ternyata media ini telah mempengaruhi kehidupan sosial dan gaya hidup kita. Bunda Alfis pernah membaca di wikipedia, ada satu teori sosiologi yang membahas tentang teknologi dan pengaruhnya terhadap gaya hidup dan cara bersosialisasi suatu generasi. Teori ini mengklasifikasikan generasi-generasi yang muncul di setiap masa. Tiap generasi memiliki gaya hidup dan cara bersosialisasi yang berbeda. Adalah Generasi X, Y dan Z yang banyak terpengaruh teknologi dalam bersosialisasi.

Generasi X adalah generasinya ayah Alfis. Generasi ini adalah mereka yang lahir di tahun 1960-an dan 70-an, akhir tahun 70-an hingga awal 80-an. Namun tidak lebih dari tahun 1982. Di generasi inilah permulaan penggunaan dan pengembangan komputer PC (personal computer), video game, televisi kabel, serta internet. Di masa ini, IBM adalah perusahaan teknologi terbesar. Saat itu penyimpanan data masih menggunakan floppy disk atau disket. Kaset juga masih banyak digunakan. Wah, bunda juga pernah mengalami masa kaset dan disket saat masih kecil.

Dan menurut wikipedia, bunda Alfis termasuk dalam generasi Y atau generasi millenia. Generasi ini, menurut teori William Strauss dan Neil Howe, adalah bayi-bayi yang lahir pada tahun 1982 hingga tahun pergantian millenium atau tahun 2000. Generasi Y banyak menggunakan teknologi komunikasi instan. Semacam email, sms, instant messaging, YouTube, dan situs pertemanan seperti Facebook, MySpace, dan Twitter. Generasi ini juga lebih suka game online. Tapi bundanya Alfis termasuk yang tidak suka game online. Termasuk dalam Generasi Y, yang berpengaruh adalah Mark Elliot Zuckerberg, si pendiri Facebook yang lahir di tahun 1984. Dia turut berkontribusi mengembangkan kebudayaan berkomunikasi di generasi ini bahkan menjadi Tokoh tahun 2010 versi Majalah Time.

Generasi selanjutnya yang juga semakin terpengaruh teknologi adalah Generasi Z. Generasi Z sering juga disebut generasi Internet. Istilah ini diperuntukkan bagi bayi-bayi yang lahir di awal 1990-an hingga 2010. Bayi-bayi yang lahir di generasi ini banyak menggunakan media teknologi. Teknologi infomasi dan telekomunikasi. Mereka sering menggunakan World wide web, instant messaging atau chatting (Alfis pernah chatting dengan ayahnya di umur 18 bulan), text messaging, MP3, ponsel, serta YouTube. Nah, kalau YouTube, Alfis juga termasuk penggunanya yang setia. Dia sering menonton video balap mobil atau pesawat terbang. Tentu dibantu ayahnya.

Setelah Generasi Z adalah Generasi Alfa. Yakni bayi-bayi yang lahir di tahun 2010 dan setelahnya. Mungkin inilah generasi broadband atau mungkin generasi mobile. Apalagi kini gadget sudah beralih, tidak lagi berbentuk layar dan tombol, namun hanya perlu sentuh layar dan swiping atau disapu dengan jari. Alfis termasuk bayi yang berada di peralihan Generasi Z dan Generasi Alfa. Di generasi Alfa, apapun bisa terjadi. Komunikasi via SMS, instant messaging, Twitter, atau Facebook mungkin akan beralih ke video. Videocall mungkin akan menjadi komunikasi yang biasa. Situs YouTube mungkin tampilannya akan berubah, dan menjadi kanal utama hiburan, tidak hanya di rumah tapi juga di perangkat mobile yang dibawa ke mana-mana. Teknologi semakin maju dan cara berkomunikasi dan bersosialisasi pun akan berubah.

Melihat begitu cepatnya anak-anak zaman sekarang mengadopsi teknologi baru, orangtua pun dituntut peka terhadap perubahan zaman. Pendidikan kepada anak kelihatannya juga harus disesuaikan dengan perkembangan zaman. Bagaimana caranya agar teknologi broadband bisa dimanfaatkan sebaik-baiknya.

Alfis, bayi digital di persimpangan generasi broadband

Melarang Saja Tak Cukup

Perkembangan teknologi akan terus mempengaruhi kehidupan. Dan hal tersebut tidak dapat dibendung termasuk masuknya era 4G dan broadband internet.

Kita tak dapat melarang atau membatasi kreativitas dalam dunia teknologi ini. Berkaca dari banyak Generasi Y dan Z, misalnya, banyak yang berkecimpung dalam dunia software. Ada yang menjadi pakar security, tapi ada juga yang terjebak dalam dunia bawah tanah menjadi hacker nakal. Di sisi lain ada yang sukses membuat game atau aplikasi.

Teknologi dari zaman ke zaman pun banyak yang menyalahgunakannya di jalur yang negatif. Pornografi misalnya. Sudah diketahui bahwa pornografi dan pornoaksi adalah tidak baik bagi perkembangan anak-anak. Namun keterbukaan informasi memungkinkan mereka mengaksesnya, baik sengaja maupun tidak sengaja. Meskipun kita telah memblokir konten-konten ini dengan teknologi juga, tetap saja ada cara untuk membukanya. Dan ada saja cara agar situs tidak kena blokir.

Teknologi juga selalu dimanfaatkan oleh para penculik atau penipu. Bunda suka merinding sekaligus gemas saat membaca berita tentang kejahatan ini. Mereka menggunakan situs pertemanan untuk mencari calon korban. Bullying bahkan kini salah satu kejahatan terhadap anak yang tinggi intensitasnya. Tak sedikit penjahat yang mencuri data pribadi orang lain lewat internet untuk menipu seseorang atau memeras seseorang. Dan masih banyak lagi modus kejahatan menggunakan teknologi.

Tidak hanya berita tentang pornografi dan kejahatan teknologi yang bikin bunda resah. Dan juga mungkin orangtua lain, tapi juga termasuk berita penggunaan teknologi itu sendiri. Ada yang bilang karena teknologi, anak-anak jadi tidak berpikir ilmiah dan logikanya pun berjalan lambat. Game online sering jadi kambing hitam, padahal jika disikapi dengan bijak dan terukur, game online mungkin sebenarnya bisa melatih logika.

Lagi-lagi kita tak dapat melarang anak-anak. Karena warnet dan game online menjamur dimana-mana. Aksesnya dekat, sebab banyak bisnis ini dibuka di dekat sekolah dan perumahan. Ditambah lagi kini fasilitas internet mobile makin mudah dan menjadi tuntutan indvidu. Akses broadband pun sudah masuk ke rumah-rumah. Arus teknologi pun kian tak terbendung.

Alfis dan sepupunya Mas Hanif sedang menggunakan produk mobile, satu main ringtone, satu menelepon

Sisi negatif dan positif selalu ada dari suatu produk, termasuk teknologi. Dan tugas orangtua agar yang negatif itu dapat dikurangi. Cara dan yang paling utama adalah membekali anak-anak dengan etika dan akhlak. Tentu saja sebagai orangtua hal tersebut adalah suatu keharusan. Agar seseorang dapat bertanggungjawab pada diri sendiri dan Tuhannya, pendidikan utama wajib. Namun nilai dan norma agama saja tak cukup. Harus diperkaya dengan beragam ikhtiar lainnya.

Pertama, memberikan pendidikan tentang teknologi dan penggunaannya. Kita dapat memberikan pengetahuan tentang penggunaan teknologi yang baik, atau memberikan pengetahuan tentang menjaga privasi di dunia maya. Kita juga dapat mencegah penyalahgunaan konten pronografi dengan memberikan pengetahuan dasar tentang kesehatan seks sesuai dengan usianya.

Kedua, komunikasi yang efektif. Agar pendidikan teknologi ini dapat tersampaikan dengan baik, maka cara berkomunikasinya harus efektif. Sesuai dengan usia dan tingkat pendidikan yang akan diedukasi. Berkomunikasi dengan anak-anak dan remaja tentu berbeda. Berkomunikasi dengan remaja di desa dan remaja di kota lain lagi bahasanya.

Komunikasi dalam keluarga adalah awal mula pendidikan diberikan. Karena itu setiap saat perlu dijaga oleh para orangtua. Perlu ada diskusi, keterbukaan dan rasa saling menghargai dan memiliki. Melalui diskusi keluarga, orangtua dapat mengarahkan anak-anaknya tanpa mereka merasa disuruh atau dilarang. Orangtua juga dapat mengetahui apa pemikiran dan pendapat anak-anaknya tentang teknologi dan bagaimana menggunakannya. Selanjutnya, komunikasi dan diskusi ini perlu dilakukan oleh para pendidik, para guru, dan komunitas agar generasi selanjutnya dapat menggunakan teknologi dengan bijak.

Ketiga, mengawasi akses internet publik bersama. Agar akses internet untuk publik dapat diawasi oleh banyak orang, sebaiknya warnet-warnet dan game online tidak lagi menggunakan kubikal. Kantor-kantor juga tidak perlu menggunakan kubikal. Sementara di rumah, komputer, TV dan laptop berada di ruang keluarga, terbuka, dan diakses bersama keluarga. Kalau perlu ada ruang komputer bersama di asrama atau kos-kosan. Sehingga secara tidak langsung si pengguna merasa diawasi oleh banyak orang. Dan mengkases informasi di internet bukanlah suatu hal yang pribadi.

Intinya, setiap usaha mulai dari sisi psikologi, sosiologi, sains hingga agama mesti diupayakan agar teknologi tidak menjadi kambing hitam. Karena teknologi seharusnya membuat hidup manusia lebih baik, lebih insani, dan lebih bertanggung jawab kepada alam tempat tinggalnya. Semoga saja bunda dan ayah Alfis dapat melakukan ikhtiar ini dengan konsisten. Dan Alfis termasuk dalam generasi masa depan yang bertanggung jawab.

19 Komentar

Filed under aktivitas, alfis, opini

19 responses to “Bayi Digital di Persimpangan Generasi Broadband

  1. anak2 skr melek IT dari bayi ya: )

  2. wah… kalo aku punya anak kayak gitu jadi anak pinter sendiri ya… ntar bapaknya kalah sama anaknya…

  3. wahh keren si alfis
    jangan2 tante julie kalah gaptek ini sama alfis😀

  4. hehehe anak2 jaman sekarang emang melek teknologi banget ya… tapi ya mau gak mau ya, emang jamannya udah begitu…😀

    salam kenal balik ya!

  5. wah generasi baru yg hebat …

    salam 😀

  6. Canggih ya alfis, sakit aja jadi diem gara2 gadget

  7. Dija lahir tahun 2010 Tante
    termasuk generasi Z atau generasi Alfa ya Tante??

  8. bener banget Mbak

    kayaknya aku harus belajar lebih melek teknologi nih
    maklum gaptek.
    kalo emaknya gaptek, nanti kasihan anak anaknya yaa… hehehee

  9. anak yang lucu dan cerdas!
    padahal, saya pernah ketemu seorang dokter yang gaptek dengan laptop.

    smg alfis jadi anak yang sholeh dan makin cerdas:)

  10. Hohohho,, keren keren keren,,, betapa bangganya jadi ayahnya,,,🙂

    Hmm,, jadi pengen😀

    Salam kenal dan salam semangat selalu

  11. zaman emang sudah berubah, anak pun cepat belajarnya🙂

  12. loh bunda alf bekasinya mana?

  13. Jaman sekarang memang menuntut ortu untuk selalu update teknologi. Biar bisa mendampingi anak yang cepet belajar hal2 baru yang berbau teknologi ya bun. Alf keliatan asyik banget BB-an pdhal lagi sakit hehehe

  14. Whuaaaaa….
    Alfis kereeeeeeen…
    *emak emak gaptek ini merasa sangat terintimidasi dengan postingan ini…hihihi…*

    Tapi tetep harus diimbangi juga dengan main bola dan main benteng bentengan ya Alfiiiiis…hihihi..

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s