Kenapa anak-anak suka corat-coret tembok???

Seniman tembok

Tak bisa dipungkiri. Alfis pun termasuk anak-anak yang juga suka coret-coret tembok. Awalnya, dia suka corat-coret di lantai. Karena lantainya keramik, jadi mudah dibersihkan. Hingga suatu saat…. dia mencoret tembok!!! Aaaaarrrgghhh… ngga berdaya. Masih segar di ingatan, Alfis menggunakan spidol hijau untuk coretan perdananya di tembok. Hingga akhirnya ber-warna-warni itu tembok.

Yahh.. anggap saja Alfis sedang membantu mengecat ulang tembok yang kusam. Awalnya itu tembok mau di-cat, sudah ada catnya ada tiga kaleng besar. Masih teronggok di pojokan bawah meja.

Kalau anak-anak sedang mencorat-coret, itu adalah sarana mengungkapkan ekspresinya. Begitu kata para expert. Dan mencoret menggunakan spidol atau krayon mampu melatih motorik halusnya. Ada yang bilang tidak usah dilarang. Tapi tetap dibatasi.

Baiklah, Alfis juga tidak akan dilarang. Batasannya adalah rumahnya (tepatnya rumah eyang-nya hihihi). Rumah tetangga atau sarana umum tidak boleh.

Tampaknya tembok atau dinding memang punya daya tarik tersendiri. Semacam magnet bagi krayon, spidol, tinta dkk. Terbukti, jaman prasejarah dulu manusia juga sering membuat lukisan-lukisan di dinding-dinding gua. Zaman sekarang pun orang dewasa senang membuat lukisan di dinding. Nama kerennya mural (eehh bener ga sihh??). Seni melukis dinding (padahal sih corat-coret dinding jugaaa). Kalau orang dewasa saja senang melukis dinding, apalagi anak-anak. Hihihihi…

Menurut sumber yang pernah kubaca, coretan anak-anak di tiap tahunnya menggambarkan perkembangannya.

Pada usia 12-30 bulan (2,5 tahun) anak belajar memegang pensil warna dan membuat tanda atau garis di atas kertas dan tentunya di tembok. Anak-anak cenderung mengalami kenikmatan kinestetik, yaitu kesenangan atau kenikmatan untuk bergerak dan membuat tanda. Coretan yang dihasilkan masih acak dan tidak teratur serta cenderung menghasilkan garis panjang sepanjang kertas atau tembok.

Coretan terkontrol terjadi pada usia 2,5-3 tahun. Anak di usia ini mulai menggunakan gerakan pergelangan tangan, mengontrol coretannya dan membuat gambar yang lebih kecil. Namun coretan yang dihasilkan belum sepenuhnya bisa dimengerti orang lain.

Pada usia 3-4,5 tahun anak-anak mulai memegang krayon dengan menggunakan jari serta sudah mampu membuat berbagai garis dan bentuk serta gambarnya sudah mulai bisa dimengerti. Selain itu anak-anak juga cenderung ‘mengisahkan’ atau ada cerita di balik gambar yang dibuatnya.

Pada usia 4,5-7 tahun, anak mulai menggambar simbol, garis yang meliuk-liuk, lingkaran, spiral, angka-angka dan sesuatu yang mulai menyerupai objek sebenarnya. Tapi anak-anak masih belajar untuk mengungkapkan sesuatu pada orang lain melalui gambarnya.

Daaaaan… inilah hasil ungkapan Alfis pada bundanyaaaa… hihihi…

seni tembok by alfis

6 Komentar

Filed under alfis, tumbuh kembang

6 responses to “Kenapa anak-anak suka corat-coret tembok???

  1. semoga blog ini tetap eksis sampai nanti Alfis besar……..
    dan, Alfis bisa lihat hasil karya nya di blog ini🙂

    pasti Alfis akan terharu deh…………..🙂
    salam

  2. Ya …
    dimana-mana sama …
    Anak-anak selalu gatal jika melihat dinding yang putih bersih …
    pasti ada saja yang dicoretkannya

    BTW..
    Arti Ungkapan Coretan si Alf untuk bundanya itu apa ya … ? kok mlungker-mlungker gitu …
    hehehe

    Salam saya Bunda Alf

  3. Tembok juga suatu saat bisa di cat ulang ya bun. Yang penting, ekspresi anak tersalurkan😀

  4. Ping-balik: Gambar Pertama Alfis « Bundalf

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s