Menjaga Privasi

ah membaca artikel di Kompas.com, jadi terpikir apa aku sudah menjaga privasi dengan baik?

Sebagai netizen (hiaaaa baru dapat istilah ini dari artikel kompas.com), aku tak dapat menahan diri untuk berbagi cerita di dunia internet, di dunia blog tentunya, tentang perkembangan Alfis.

Sebagai emak-emak, eike termasuk yang sueneng banget mengabadikan momen-momen yang (menurutku) lucu dan unik di blog atau di jejaring sosial. Kalau dulu, ibu-ku menggunakan kaset untuk merekam suara ocehanku saat sebesar Alfis. Yang notabene kasetnya dah rusak berat. Dan menggunakan kamera analog untuk mengabadikan aktivitas dan perkembanganku.

Sekarang, sudah ada fasilitas kamera-video di ponsel. Tinggal rekam atau jepret. Selesai. Mau di-upload di youtube atau mau disimpan saja di ponsel. Itu pilihan. Daan… aku memilih yg mana yg bagus untuk di-upload.

Kembali ke privasi, jadi terpikir deh. Kira-kira Alfis marah ga ya perkembangan dia saat kecil dipublish di blog bunda-nya ini?
Hmmm…Maaf ya Alfis, bunda hanya ingin berbagi dengan ibu-ibu lainnya. Siapa tau mereka juga bisa belajar dari pengalaman kita. Karena bunda pun belajar dari pengalaman mereka.

Privasi memang patut dijaga. Apalagi saat ini marak penyalahgunaan internet. Bahkan di Amrik sana, ada yang menyalahgunakan media jejaring sosial untuk pedofil. Serem banget.
Waspadalah! Waspadalah!

Menjaga privasi itu…seperti beribadah. Saat kita mendekatkan diri pada Allah SWT, hanya diri ini dan Allah yang tahu. Begitu juga dengan data diri yang detil, hanya diri ini dan keluarga dekat yang tahu. Aktivitas sosial tetap berjalan, namun tidak mengumbar-ngumbar privasi sendiri. Bisa rugi. Beribadah pun kalau diumbar-umbar untuk mendapat perhatian orang lain tidak bernilai di mata Allah SWT. Tidak dapat pahalanya.

Karena itu, sebisa mungkin aku tidak memberikan keterangan detil yang bersifat pribadi. Apalagi di jejaring sosial. Jejaring sosial hanya sebagai sarana silaturahim dengan kawan-kawan lama yang memang sudah pernah bertemu. Atau kawan baru yang sudah cukup kenal. Yang lain, tidak di-accept. Sementara di blog atau email, sebisa mungkin berhati-hati dalam mem-posting. Hindari curcol alias curhat colongan yang berlebihan. Bisa mengakibatkan bumerang di kemudian hari. (Inget kasus prita deh).

Berikhtiar dengan cara menjaga privasi merupakan langkah preventif. Untuk Internet yang lebih sehat. Khususnya bagi para remaja dan ABG.

Lagipula, males deh kalau lagi santai tiba-tiba ada yang telpon ternyata nawarin produk atau iming-iming hadiah hanya gara-gara mengumbar nomer ponsel pribadi atau nomer rumah. Mengganggu. Cukuplah Alfis yang mengganggu bunda-nya.

Tinggalkan komentar

Filed under opini

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s