Monthly Archives: November 2010

Ikan

ikan nila

Judulnya singkat banget ya? Tulisan ini memang tentang hewan air tersebut. Ini gara-gara kemaren tetangga ngasih ikan nila hidup.

“Ikan” adalah salah satu kosakata alfis yang pengucapannya jelas. Selain “susu” dan “minum”. Alfis juga paling suka lihat ikan di kolam. Alfis juga suka lihat ikan di TV atau di buku/majalah/koran. Alfis pernah mencoba pegang ikan. Tapi karena si ikan licin, dia jadi ngga mau lagi pegang ikan. Hanya suka melihat saja. Suatu saat harus dicobain pegang ikan lagi. Supaya ngga jijik ama ikan.

Ikan juga membawa bunda alfis nostalgia zaman hamil dulu. Saat kandungan masih 2-3 bulan, bunda paling suka konsumsi sop ikan atau ikan goreng ala Pak Heri “kabita” Jatibening. Rasanya segar dan pedas. Meski tak terlalu pedas. Ikan gorengnya juga enak, gurih dan garing. Kadang saking garingnya tulangnya pun ikut dikletus (mungkin saat dimasak awal tulangnya sudah lunak).

Akhirnya, si ikan nila pemberian tetangga pun dimasak sop ikan. Ini dia Resep Sop Ikan ala bunda Alfis;

Bahan-bahan

Ikan (gurame atau nila lebih enak) 300 gr dipotong tiga bagian, rendam dengan air jeruk nipis
Dua batang sereh (serai)
2 bh jeruk nipis
air 500 ml
Haluskan:
5 siung bawang merah
3 siung bawang putih (kating)
1 sdt merica
garam
gula
pelengkap:
daun Kemangi
daun bawang diiris serong
4 bh tomat hijau
10 bh cabe rawit merah (atau sesuai selera)

Cara membuat:

  • Tuangkan dua sendok makan minyak dalam wajan, tumis bumbu halus dan serai yang digeprak hingga harum.
    Masukkan bumbu yang telah ditumis ke dalam air 500ml yang sedang dididihkan. Kemudian masukkan ikan. Lalu masukkan air jeruk nipis.
  • Kemudian masukkan sedikit gula dan cabai rawit merah.
  • Setelah mendidih, masukkan daun bawang. Angkat, sajikan sop ikan bersama tomat hijau dan daun kemangi.

Paling enak disajikan selagi hangat.

catatan:

  • sumber segarnya adalah dari serai dan air jeruk nipis.
  • Jika suka pedas, bisa digeprak dulu cabai rawit merahnya. Paduan cabai dan merica membuat citarasa semakin PEDAS!

Resep lainnya:

 

 

    10 Komentar

    Filed under cerita keluarga, resep

    Terlambat Bicara

    Alfis sudah bisa membedakan warna. Lihat tuhh dindingnyaa 🙂

    Alfis saat ini berumur 26 bulan. Dia mulai menunjukkan perkembangan kosakata. Sudah mulai mengenal warna, huruf, dan beragam permintaan/perintah sederhana. Dia juga sudah mulai bisa memanggil nama teman-temanya. Meski tidak memanggil dengan keras. Sempat khawatir saat dia berumur 15 bulan belum ada satu kata. Hanya babbling. Bahkan 18 bulan baru ada sedikit kata saja. Mau sharing sedikit mengenai terlambat bicara ini. Setelah browsing sana-sini, ini dia sekelumit tentang terlambat bicara.

    Apa sih penyebab terlambat bicara?

    Ada tiga penyebab utama keterlambatan bicara
    pertama, retardasi mental,
    kedua, gangguan pendengaran,
    ketiga, keterlambatan maturasi atau keterlambatan bicara fungsional, termasuk gangguan paling ringan dan saat usia tertentu akan membaik.

    Penyebab lain yang relatif jarang adalah kelainan organ bicara, kelainan genetik atau kromosom, autis, mutisme selektif, afasia reseptif, dan deprivasi lingkungan. Deprivasi lingkungan bisa disebabkan oleh lingkungan sepi, dua bahasa, status ekonomi sosial, teknik pengajaran yang salah, dan sikap orangtua.

    Deteksi dini

    Sejak bayi baru lahir, sebisa mungkin kita sebagai orang tua mencatat setiap perkembangan dan respon bayi. Bahkan sejak bayi masih dalam kandungan. Karena semua informasi perkembangan ini dibutuhkan oleh para dokter dan profesi yang terlibat dalam mendeteksi keterlambatan bicara tersebut. Apakah bersifat fungsional atau nonfungsional?
    Karena itu milestone sangat diperlukan. Misalnya;

    Riwayat kehamilan. Apakah kehamilan bermasalah atau tidak. Kalau bermasalah, apa masalahnya.

    Kelahiran. Apakah lahir normal atau caesar. Apakah lahirnya tepat waktu atau lebih cepat, atau lebih lambat. Bagaimana posisi bayi saat melahirkan. Saat bayi lahir bagaimana kesehatannya? Apakah langsung menangis atau harus distimulasi dulu baru menangis?

    Perkembangan bayi. Catat setiap perkembangan atau respon bayi terhadap lingkungannya. Misalnya, kapan pertama kali tengkurap sendiri, kapan bisa miring sendiri, umur berapa dia mulai babbling, kapan pertama kali duduk sendiri, kapan pertama kali merayap dan atau merangkak, kapan dia mulai mengulang-ngulang kata (meski belum berarti apa-apa), bagaimana responnya terhadap suara, bagaimana responnya jika dipanggil, bagaimana responnya saat dimainkan suara pelan, riwayat kesehatan, alergi, dan sebagainya. Karena setiap perkembangannya sekecil apapun itu, informasinya sangat dibutuhkan untuk menangani atau mendeteksi lebih lanjut keterlambatan bicara pada anak.

    Hubungan keluarga. Apakah dalam keluarga ada riwayat terlambat bicara atau tidak.

    Lingkungan. Apakah lingkungan terlalu sepi atau terlalu ramai. Ada dua bahasa atau tidak. Stimulasi dari orangtua bagaimana, stimulasi dari keluarga bagaimana.

    Selain mengungkapkan jenisnya, deteksi dini dapat mengoptimalkan penanganan selanjutnya.

    Jenis Fungsional

    Keterlambatan bicara fungsional atau keterlambatan perkembangan bahasa ini disebabkan oleh terlambatnya kematangan proses syaraf pusat yang dibutuhkan untuk memproduksi kemampuan bicara. Gangguan ini sering dialami anak laki-laki. Kondisi ini cukup ringan dan bisa membaik. Umumnya, anak-anak dalam kondisi ini fungsi reseptifnya baik. Seperti Alfis, dia sangat mengerti apa yang kita bicarakan. Bahkan dia bisa disuruh hanya dengan kata-kata, tanpa menunjuk. Misalnya “ambil sepatu ayah di dapur” atau ” buang di tempat sampah” atau “ambil gelas di dapur”. Visualnya pun sangat bagus. Dia tahu logo Piala dunia (pasti langsung bernyanyi Owowowo sambil loncat2), logo Firefox (langsung menunjuk komputer), logo Bank (menunjuk kartu ATM), dsb.

    Ciri khas lainnya, anak tidak menunjukkan kelainan neurologis, gangguan pendengaran, gangguan kecerdasan, dan gangguan psikologis. Keterlambatan bicara fungsional sering dialami anak dengan gangguan alergi, terutama pada kulit dan saluran cerna.

    Gangguan saluran cerna berupa gejala berulang dari perut kembung, sering buang angin, muntah, dan sulit buang air besar (BAB). Kesulitan BAB ditandai oleh BAB ngeden; tidak setiap hari; kotoran berbau, hitam atau hijau tua, keras, dan bulat seperti kotoran kambing; ada riwayat berak darah; serta lidah tampak kotor, berwarna putih, air liur bertambah banyak, atau mulut berbau.

    Gangguan kulit biasa muncul dalam bentuk bintik-bintik kemerahan, seperti digigit nyamuk atau serangga, biang keringat, dan kulit berwarna putih (seperti panu) di wajah atau di bagian badan lainnya. Hal itu sering pula disertai gangguan tidur malam, gelisah, mengigau, tertawa atau menangis saat tidur, sering terbangun, gigi gemeretak, dan sebagainya.

    Jenis nonfungsional

    Keterlambatan bicara jenis non-fungsional seperti gangguan pendengaran, retardasi mental, atau penyebab lainnya perlu stimulasi dan intervensi khusus sesuai penyebabnya. Salah satu blog yang cukup mencerahkan dan ilmiah adalah blog Ibu Julia Van Tiel. Beliau menulis buku “Anakku Terlambat Bicara”. Banyak penjelasan ilmiah disana. Agar tidak bias antara autis dan bukan autis. Karena saat ini banyak profesional dan dokter terlalu dini men-cap anak sebagai Autis. Perlu pendekatan multidisiplin ilmu untuk gangguan non fungsional ini. Antara lain, dokter ahli tumbuh kembang anak, neurologi anak, gastroenterologi anak, alergi anak, psikologi anak, psikiater anak, rehabilitasi medik, serta mereka yang bergerak di bidang klinis atau praktisi lain yang berkaitan.

    Sumber: Kompas.com, gaya hidup sehat

    Tulisan terkait

    23 Komentar

    Filed under alfis, berbicara, tumbuh kembang

    Apa yang bisa dilakukan?

    pic by: visitindonesia-tourism.blogspot.com

    Malam tadi aku terbangun oleh suara gemuruh yang dahsyat. Gemuruhnya sangat keras. Apakah ada diantara para blogger di jakarta yang mendengarnya? Atau kah memang ada stasiun televisi yang menyiarkannya?

     

    Tapi, gemuruh itu memang tidak biasa. Pagi tadi aku baru tahu, setelah beberes rumah, ternyata Merapi meletus lagi. Sedihnya ternyata pagi ini harus memakan korban yang cukup banyak. Jarak aman pun semakin diperluas. Menjadi 20 km. Mungkin seharusnya dilebihkan, yakni 30 km. Kalau-kalau terjadi lagi erupsi yang lebih besar di malam hari. Sperti hari ini.

    Sedih, karena terpikir ada teman-teman di Sleman. Dan ada keluarga besar di Bantul dan Yogyakarta. Meskipun masih jauh dari Merapi, tetap saja beresiko. Apalagi kini hujan abu dan pasir sudah mulai sampai ke daerah tersebut. Ya Allah….

    Saat ini hanya bisa ikut mendo’akan dari rumah. Teman-teman blogger yang baik, apakah ada yang bisa dilakukan oleh selain berdo’a dan menyumbang uang?

    Rasanya masih kurang berarti. Melihat situasi di pengungsian dari berita-berita. Sedih rasanya melihat balita yang makannya hanya mie instan dan sarden. Atau hanya roti. Miris.

    Untuk saudara-saudaraku di sekitar Merapi, Wasior, dan Mentawai…. semoga Allah selalu menguatkan…

    11 Komentar

    Filed under berita

    Milestone Alfis

    Semenjak Alfis diobservasi di klinik terapi bicara, jadi kepikiran mencari milestone Alfis yang lalu. Dan menggabungnya jadi satu. Sebab data perkembangannya sangat dibutuhkan untuk menganalisa mengapa dia kosakatanya masih sedikit sekali.

    Ini dia rangkuman perkembangan Alfis:

    2 bulan:
    Bisa miring-miring. Kalau tidur pasti posisi miring.

    3bulan:
    Dah ngangkat kepala kalo tengkurep.dah ada celoteh mamamamama

    4 bulan:
    suka sit up, berusaha untuk duduk atau tengkurep

    5 bulan:
    mahir tengkurep n guling2, suka memukul-mukul lutut sendiri

    6 bulan:
    berusaha duduk sendiri dengan cara sit-up atau menopang badan dengan sebelah tangan.

    9 bulan:
    mahir buka tutup, duduk sendiri, merangkak cepet buangeeeett

    11bulan:
    mahir berdiri sendiri dari duduk tanpa dibantu atau pegangan

    12 bulan:
    mahir berjalan! Bahkan amat sangat mahir.

    16 bulan:
    kata pertama yang tetap: ada – ngga ada

    23 bln 3 minggu:
    disapih

    24 bln :
    mulai banyak kata2. Menguasai sekitar 20-an kata.

    4 Komentar

    Filed under alfis, tumbuh kembang

    Menjaga Privasi

    ah membaca artikel di Kompas.com, jadi terpikir apa aku sudah menjaga privasi dengan baik?

    Sebagai netizen (hiaaaa baru dapat istilah ini dari artikel kompas.com), aku tak dapat menahan diri untuk berbagi cerita di dunia internet, di dunia blog tentunya, tentang perkembangan Alfis.

    Sebagai emak-emak, eike termasuk yang sueneng banget mengabadikan momen-momen yang (menurutku) lucu dan unik di blog atau di jejaring sosial. Kalau dulu, ibu-ku menggunakan kaset untuk merekam suara ocehanku saat sebesar Alfis. Yang notabene kasetnya dah rusak berat. Dan menggunakan kamera analog untuk mengabadikan aktivitas dan perkembanganku.

    Sekarang, sudah ada fasilitas kamera-video di ponsel. Tinggal rekam atau jepret. Selesai. Mau di-upload di youtube atau mau disimpan saja di ponsel. Itu pilihan. Daan… aku memilih yg mana yg bagus untuk di-upload.

    Kembali ke privasi, jadi terpikir deh. Kira-kira Alfis marah ga ya perkembangan dia saat kecil dipublish di blog bunda-nya ini?
    Hmmm…Maaf ya Alfis, bunda hanya ingin berbagi dengan ibu-ibu lainnya. Siapa tau mereka juga bisa belajar dari pengalaman kita. Karena bunda pun belajar dari pengalaman mereka.

    Privasi memang patut dijaga. Apalagi saat ini marak penyalahgunaan internet. Bahkan di Amrik sana, ada yang menyalahgunakan media jejaring sosial untuk pedofil. Serem banget.
    Waspadalah! Waspadalah!

    Menjaga privasi itu…seperti beribadah. Saat kita mendekatkan diri pada Allah SWT, hanya diri ini dan Allah yang tahu. Begitu juga dengan data diri yang detil, hanya diri ini dan keluarga dekat yang tahu. Aktivitas sosial tetap berjalan, namun tidak mengumbar-ngumbar privasi sendiri. Bisa rugi. Beribadah pun kalau diumbar-umbar untuk mendapat perhatian orang lain tidak bernilai di mata Allah SWT. Tidak dapat pahalanya.

    Karena itu, sebisa mungkin aku tidak memberikan keterangan detil yang bersifat pribadi. Apalagi di jejaring sosial. Jejaring sosial hanya sebagai sarana silaturahim dengan kawan-kawan lama yang memang sudah pernah bertemu. Atau kawan baru yang sudah cukup kenal. Yang lain, tidak di-accept. Sementara di blog atau email, sebisa mungkin berhati-hati dalam mem-posting. Hindari curcol alias curhat colongan yang berlebihan. Bisa mengakibatkan bumerang di kemudian hari. (Inget kasus prita deh).

    Berikhtiar dengan cara menjaga privasi merupakan langkah preventif. Untuk Internet yang lebih sehat. Khususnya bagi para remaja dan ABG.

    Lagipula, males deh kalau lagi santai tiba-tiba ada yang telpon ternyata nawarin produk atau iming-iming hadiah hanya gara-gara mengumbar nomer ponsel pribadi atau nomer rumah. Mengganggu. Cukuplah Alfis yang mengganggu bunda-nya.

    Tinggalkan komentar

    Filed under opini