Kepungan(!)

Kepungan(!)

Kepungan: berasal dari kata kepung. Kepungan di tulisan ini adalah istilah. Yang artinya adalah mengepung makanan. Alias makan-makan! Hehehe… Ini salah satu tradisi lokal di kampung ibuku. Lebaran kemarin ibu-ku menyelenggarakan acara tersebut. Tujuan utama adalah dalam rangka syukuran pernikahan kakak-ku. Sebetulnya mereka sudah menikah setahun lebih di Palembang. Dan belum sempat mengadakan “ngunduh mantu”. Maka di acara kepungan(!) inilah sang mantu diperkenalkan.

Kenapa harus Kepungan(!)?
Kepungan adalah acara sederhana untuk mensyukuri keragaman. Setiap orang dengan latar belakang berbeda, duduk bersama untuk bersyukur. Bersyukur terhadap beragam kenikmatan yang telah diberikan oleh Yang Maha Kuasa. Termasuk beragam makanan…🙂

berdoa, bersyukur sebelum makan

Kepungan(!) menggunakan daun pisang sebagai piring utama. Semua nasi dan lauk pauk disajikan di atas daun pisang tersebut. Peserta kepungan(!) duduk lesehan, mengelilingi lembaran daun pisang nan panjang dan menyambung itu.

Acara kepungan(!) hari itu dimulai dengan tausyiah tentang rasa bersyukur. Kemudian berdo’a bersama. Tentunya juga doa mau makan. Setelah itu….. kepungan(!). Semua makan di atas daun pisang dan menggunakan tangan.

Lauknya adalah bebek mentok rica-rica, tempe mendoan khas Merden*, mie goreng dan urap sayur. Tak lupa peyek kacang dan teri. Semua lauk dimakan mendampingi nasi organik hangat hasil tanam sendiri. Hmmm enaaak…

Semakin nikmat karena makan ala kepungan(!) melihat teman, kerabat, dan tetangga makan dengan lahap! Lauk-pauk berkurang satu demi satu, nasi pun lama-lama habis. Padahal aku makannya dikit-dikit. Tapi karena melihat yang lain masih asik dengan makanan, jadi deh ikutan ngambil lagi, ngambil lagi.😉

waaaww om-nya Alfis sampe tandas ber-piring-piring lauk

Kepungan(!) memang seru(!). Seperti tanda seru(!) yang selalu mengikuti kepungan(!) di tulisan ini. Ramai, karena bisa sambil ngobrol santai. Asik, karena diselingi rebutan lauk. Dan sangat terasa kebersamaannya. Tidak ada batas. Dan yang paling penting: kalau ga habis, bisa bawa pulang bersama daunnya. Hihihihi.

Kita kepungan(!)blog yooook…

*Merden: Desa di daerah Kabupaten Banjarnegara, Jawa Tengah

19 Komentar

Filed under cerita keluarga

19 responses to “Kepungan(!)

  1. Lam kenal :

    Seru nampak pada lapar dan lahap ya, hehe. Klo di ranah sunda mah kepungan tuh bancakan kali ya, makan rame-rame.

  2. ya ya yaa… bancakan kalo di sunda.. terimakasih sudah mampir

  3. hua…. kangen saya dengan cara makan ini

  4. enaknya jika acara beginian jadi seru dan akrab ya, saya kadang merindukan suasana seperti ini meski tidak ada acara khusus…

  5. kelihatannya asik banget ya Dewi,
    bukan hanya makan barengnya yang bikin seru,
    tapi pasti juga kebersamaan itu yang bikin heboh ya🙂
    salam

  6. itu orang lagi lapar apa doyan yach?😀 hehehe

  7. enak keknya makannya tuh..hhe

  8. DUh2, sampe ludes begitu, baru tau istilahnya bun

  9. bancaa’an….. ditempat saya gitu nyebutnya

  10. Hai Bund…kalo makan seperti ini lupa diet deh….ngga bisa ngga nambah..hehehe

  11. ^^ You and Me = we are ^^

    Mmmmm….. nampak lezaaat,
    😀 Rameee…. berkesan. Keberagaman dalam satu kesatuan, indahnya… 😀

  12. seruu banget acaranya mbak..

    ngepungin makanan..hheheeh

  13. duh..saya lihatnya jadi ngiler..(apalagi lg puasa gini!)..sapa yg masak tuh? BTw salam kenal

  14. Lho…komenku gak nongl disini.Perasaan dulu sudah komen deh. Kepungannya asyik😀

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s