Beli Rumah

Sejak lama, sebelum Alfis lahir, udah kepikiran terus pengin beli rumah. Selalu aja kepentok dengan kepentingan keluarga.

Kepenginnya, punya rumah sendiri, tetangga baik, keamanan terjaga, tidak banjir, akses transportasi mudah, akses tempat umum juga mudah. Visualisasinya, seperti rumah di jatiwaringin yang ada di dalam komplek.

Kenapa di dalam komplek? Alasan utamanya supaya mudah mengontrol tempat main dan interaksi Alfis. Kalo di komplek, jalan komplek tidak terlalu ramai. Dan ada taman tempat bermain. Tetangga pun ga terlalu deket banget. Harapannya privacy terjaga. Tidur pun nyenyak.

Hanya saja, impian itu terbentur dengan kepentingan keluarga. Kalau rezeki, aku yakin pasti ada jalannya. Tapi, yang membuat tidak yakin adalah keinginannya orang tua.

Eyangnya Alfis, penginnya rumah ini ada yang nungguin (yakni aku dan keluarga), supaya kalau sewaktu-waktu beliau ke Jakarta, masih ada rumah untuk ‘pulang’. Begitu pun adikku yang masih kuliah di Bandung. Dan begitu pula kakakku.

Aku secara subjektif, sering tidak terima (di dalam hati dan pikiran) keadaan tersebut. Karena aku sejujurnya kurang betah disini. Sebetulnya keegoisan ini tidak boleh dipelihara. Tapi aku merasa area privacy sangat kurang disini.

Aku ga bisa bebas ga pake jilbab di halaman samping rumahku. Karena pasti kelihatan tetangga. Aku juga tidak bisa bebas di ruang depan dengan pintu terbuka. Karena kalau pintu depan terbuka, pasti terlihat dari jalan apa yang sedang dilakukan di dalam.

Karena jarak tetangga cukup dekat, kalau ada yang sedang ngobrol (meskipun di dalam rumah mereka) pasti terdengar. Aku sering merasa terganggu. Apalagi kalau ada yang ribut-ribut. Amat sangat terdengar di rumah. Aku jadi tidak merasa seperti berada di ‘rumah’. Jarang aku bisa tidur nyenyak. Sering aku terbangun atau terusik kalau ada suara. Meski hanya suara berbisik. Apalagi kalau suara keras.

Kadang, tetangga juga suka karaoke. Atau mengobrol cukup intens dengan kawan-kawannya. Di rumah pasti terdengar. Aku sebenarnya ingin sekali mengabaikannya dan tidur. Tapi sering tidak bisa. Aku sering tidak bisa tidur nyenyak karena gelisah.

Suamiku sering menasehatiku kala aku curhat soal tempat tinggal. Dan berulang kali juga suamiku mengingatkan, membesarkan hati, dan tak bosan mendengar keluhanku.

Tapi sampai saat ini aku tetap saja berkeluh. Hanya saja kini aku berkeluh via blog. Aku benar-benar ingin pindah dari sini. Dan beli rumah baru yang sesuai visi-ku. Secepatnya.

hhhhhhh

Tinggalkan komentar

Filed under cerita keluarga

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s