Duka dan Gembira di Palembang

Hari minggu, tanggal 8 bulan Maret tahun 2008. Malam maulud nabi Muhammad SAW. Tepatnya setelah shalat Maghrib. Telah berpulang ke rahmatullaah Mbah Djauhari putri di Merden, Banjarnegara.

Malam itu, mama dan kami sekeluarga sangat berduka mendengar berita tersebut. Namun esok paginya, yakni hari senin, 9 Maret 2009, kakakku akan melangsungkan akad nikah.

Malam itu tangis mama tidak bisa dibendung. Beliau sudah merawat si mbah sampai kurang lebih 3 tahun. Dan berpulang ketika mama sedang tidak ada disisinya. Allah memiliki rencana lain. Mama benar2 harus ikhlas untuk melepas beliau.

Tadinya suamiku sempat panik untuk cari penerbangan ke jakarta atau semarang. Tapi tak ada satu pun penerbangan yang bisa berangkat malam. Alhamdulillaah ada mbah putri dari kelurga Bantul yang mengingatkan. Agar semua mampu ikhlas melepas kepergian mbah merden. Dan menyelesaikan hajat menikahkan kakakku di Palembang.

Akhirnya semua setuju untuk menyelesaikan acara di Palembang di hari Senin. Kemudian mencari pesawat selasa pagi ke Jakarta. Baru kemudian ke Merden menggunakan mobil saudara.

Hari senin pagi, akad nikah berjalan lancar. Sementara di Merden pemakaman pun berlangsung baik. Selamat tinggal mbah putri Merden, semoga khusnul khotimah. Dan selamat menempuh hidup baru kakakku Ashari Sambodo dengan Nyimas Fadhillah, semoga menjadi keluarga sakinah. Aamiin.

Tinggalkan komentar

Filed under cerita keluarga

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s