Kondangan…

Kemarin pertama kalinya aku bawa Alfis ke kondangan tanpa dtemani ayah Alfis. Meskipun aku ditemani mbak-nya (asisten rumah tangga), tetep Alfis aku yang pegang dan aku adalah pengambil keputusan. Mungkin lain halnya kalau ada eyangnya. Bisa jadi pengambil keputusan adalah eyangnya. Karena eyang Alfis memang sudah pengalaman.

Bismillaahi tawakaltu alallohu… Setelah dzuhur aku berangkat naik angkot. Yang menikah itu adalah anak buah mama waktu dulu masih di Jatiwaringin. Dia guru TPA di masjid komplek. Dan mama adalah kepala sekolahnya (kepala sekolah yang non-profit alias ga dibayar).

Tadinya aku memang masih melihat kondisi cuaca. Karena memang cuaca minggu-minggu ini ngga bersahabat. Hujan terus. Tapi karena dari pagi ngga hujan, alhasil aku memutuskan untuk berangkat.

Satu keluarga pihak mempelai perempuan aku kenal semua. Karena kakak dan adik si mempelai perempuan pernah kerja di rumahku sebagai penjahit. Dan satu keluarga itu respect banget sama mama dan almarhum papa. Aku ngga enak kalo ngga dateng karena mereka pernah bantuin aku dan keluargaku. Dan aku udah anggap mereka sebagai keluarga.

Kebetulan mereka adalah keluarga asli betawi. Makanya persaudaraannya masih kentel banget. Karena itu sampe bibi, enyak, babe, ncang, uak … yang ada di keluarga itu kenal semua sama aku.

Kembali ke cerita dibalik kondangan, Alfis selama perjalanan ga rewel sama sekali. Ketika sampai di tempat resespsi (yakni di rumah mempelai wanita), Alfis pun anteng-anteng aja. Cerita punya cerita Alfis digendong mpok anah (kakaknya mempelai wanita) sementara aku makan. Dia seneng banget waktu diajakin becanda sama putri.

Eh ga tau kenapa dia mulai menjep trus nangis. Buyarlah konsentrasiku (makan kok pake konsentrasi Wi???). Trus aku memutuskan untuk ke kontrakan mpok anah yang masih deket dengan tempat resepsi. Tapi mungkin karena masih kesel dia malah semakin kejer n keras nangisnya.

Naahhhh mulai deh aku rada-rada panik meskipun berusaha untuk ga panik. Saat itu aku hanya berpikir kalau Alfis sepertinya ga senang kalau berisik. Padahal yang namanya nikahan ga jauh dari dangdutan. Aku pun berpikir untuk menjauhkan Alfis dari tempat keributan (beeuuu ini tawuran apa nikahan sih?).

Aku bawa Alf ke jalan raya (karena rumahnya deket jalan raya). Sementara dia agak tenang, eh nangis lagi. Mungkin sih karena selain faktor lapar dia juga ngantuk. Karena memang biasanya kalau di rumah dia tidur harus tenang. Meskipun ada suara-suara tapi ngga sebising kalau lagi dangdutan.

Akhirnya karena Alf belum mau tidur juga (karena dia masih kebisingan), aku memutuskan untuk pulang. Ketika mau pulang, dia malah tenang dan anteng. Perjalanan pulang pun malah tidur. Alhamdulillaah angkotnya juga ga penuh. JAdi dia cukup udara untuk bernafas. Kebetulan aku ga dapet tempat duduk di depan (karena waktu berangkat aku duduk di depan).

Apakah ini karena Alf sedang beradaptasi dengan lingkungan baru? Kalau memang iya, gimana ya caranya supaya nangisnya ga terlalu hebohh???

Tinggalkan komentar

Filed under alfis, Uncategorized

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s