hujan, badai, banjir, kabel, dan adzan

awan badai ini awan badai…

Aku mau berbagi tentang banjir yang melanda jakarta 6 hari yang lalu. Saat itu mungkin kebanyakan warga Jakarta terlelap dalam tidur. Tapi aku ga tidur, karena atap rumah masih pada bocor, hujan lebat ditambah angin besar walhasil musola di rumah kebanjiran, ruang makan, dapur, kamar mandi, dan ruang jahit yang beralih fungsi jadi penyimpanan baju bersih. Walhasil semaleman banjir lokal di tempat2 tersebut. karena di dalem rumah dan konsentrasi mengeringkan air yang merembes dari atap makanya ga sadar kalau ternyata di luar angin besar banget.

Jumat pagi, tau-tau listrik mati. sewaktu adekku mau berangkat sekolah, kata orang-orang di komplek bawah udah banjir setinggi dada orang dewasa. Pagi itu masih ada sisa awan mendung yang sepertinya akan tumpah lagi. Alhamdulillah rumahku ga kebanjiran, hanya mati lampu. Tapi akses jalan keluar banyak yang terkena banjir, termasuk komplek di bawah yang biasa dilalui adekku ke sekolah. Jalan alternatif ga banjir lewat kampung-kampung yang ga banjir tapi jauhnya alamak… Alhamdulillah adekku bisa keluar dari kepungan banjir pake jasa ojek dan berhasil sampe di sekolah sebelum jam7.

Aku kira hanya banjir biasa yang surut dalam waktu sehari. Ternyata sampe 2 hari banjir belum juga surut, malah ada banjir kiriman dari bogor. Warga sekitar rumah udah panik pada ga punya air di hari kedua. Awalnya mereka nampung hujan dari talang rumah buat nyuci. Sorenya, ada seorang warga yang membeli diesel, menyusul dua tiga orang yang punya diesel. Satu rumah ada yang bersedia membagi listriknya dengan syarat membayar sekitar 10 ribu per rumah untuk mengganti solar yang digunakan sebagai bahan bakar. Ba’da Ashar semua Bapak-bapak sibuk mengulur-ulur kabel dari rumahnya untuk disalurkan ke rumah masing-masing.

Di rumah kebetulan ada kabel besar dan panjangnya berpuluh-puluh meter. Karena kebanyakan kabel ngga kuat (karena kecil diameternya) makanya pake kabel yang ada di rumah. Nyumbang kabel buat warga untuk jalanin pompa airnya di rumah masing2. Hari ketiga, hujan mulai turun dan ada kiriman banjir dari bogor. Banjir naik lagi. Malamnya, mulai hujan angin. Listrik tetep balum nyala. Kakakku adzan di pukul 23.00 sebanyak tiga kali atas permintaanku. Karena anginnya lumayan besar dan aku takut kejadian malam jumat terjadi lagi. Mungkin atas izin Allah, setelah kakakku selesai adzan, hujan berhenti dan angin tidak lagi berhembus kencang. Langit perlahan mulai cerah. Alhamdulillaah.

Hari keempat, udah ada rumah yang nyala tapi kebanyakan rumah sekitar pada belum nyala. Akhirnya pada ngulur2 kabel lagi ngambil listrik dari satu titik penerangan yang memang diperuntukan bagi masyarakat sekitar. Karena banyak rumah yang membutuhkan dan kabelnya hanya satu, makanya harus bergantian. Ketika digunakan oleh pengguna terakhir, mereka memanfaatkan sumber listrik bersama ini untuk menyetrika dan nonton TV. Padahal kebanyakan menggunakan untuk menghidupkan pompa air untuk nyuci, menuhin bak air, mandi, dan air minum. Nah pemakaian yang dirasa tidak adil ini bikin cemburu banyak ibu rumah tangga yang hanya menggunakan listrik (kabel sebagai perantaranya) untuk air.

Hari kelima, listrik masih belum nyala. Ibu-ibu pada wanti-wanti supaya kabel milik mama itu ga digunakan lama-lama dan jangan sampe kejadian seperti kemarin lagi. Ya karena hari itu sudah surut dan jalanan komplek di bawah sudah kering, makanya aku siang itu keluar ke warnet. Ibu-ibu yang sedang menggunakan kabel itu (yang pernah digunakan untuk nyetrika) kontan aja kaget karena sumber listriknya terputus. Aku sempet ga enak, tapi ibu-ibu yang lain bilang: cuek aja toh kemaren mereka udah pake lama banget. Satu yang aku takutkan, mereka belum selesai menampung air. Aku kan jadi pihak yang merugikan banyak orang. Ibu-ibu yang lain meyakinkan pasti mereka udah selesai isi air. Karena sudah siang dan aku kepingin banget keluar cari warnet (karena di atas sudah ada yang nyala listriknya) makanya aku ngubek-ngubek ibu-ibu yang lagi pake listrik itu.

Setelah dari warnet dan belanja sayur, aku balik ke rumah udah ashar. Sewaktu jalan masuk ke dalam komplek, ada mobil PLN yang melaju tepat di sebelahku. Aku langsung berharap malam itu listrik sudah nyala. Sampe di rumah, ternyata banyak warga yang pada beli kabel sendiri-sendiri untuk mengalirkan sumber listrik bersama itu. Aku ke warung dan bilang ama ibu di warung nanti setelah pada beli kabel langsung nyala listriknya…. (karena semua kepingin make listrik sepuasnya)

Eh…begitu itu kabel-kabel pada bertebaran, tepat ketika adekku pulang listrik nyala dan itu ketika orang-orang pada ribet dengan kabel nya sendiri-sendiri….Aku yang hanya minjemin kabel dan ga menggunakan listrik di hari itu (karena air di kamar mandi dan di torn masih banyak dengan pemakaian dihemt) bersyukur banget…. Alhamdulillaah…ternyata kalau sabar dan permohonan terkabul di saat ga diduga… rasanya lebih manis…

Hari itu aku benar-benar bersyukur… bayangkan kalo aku juga kena banjir… kaya’nya ga dapet makanan, listrik, dan air bersih sekaligus. Satu lagi yang ingin aku bagi… ketika melihat awan gelap, awan hitam bergulung yang potensi menimbulkan badai … adzanlah  para muslimin…(jangan muslimah ya). Sebelumnya berwudhu, kalau perlu sholat sunat dulu… bismillaah..mudah-mudahan terhindar dari bencana… Tentu aja, dengan keyakinan penuh bahwa Allah akan menolong kita dalam kesusahan. Serta sebagai wujud keyakinan bahwa Allah MAHABESAR. Percaya ga percaya, setelah adzan awan gelap menggulung akan memisah atau berpindah ke daerah lain yang lebih jauh. Adzan ini juga sebagai tanda bahwa kita selalu ingat kepada Kekuasaan MahaPencipta… Alloohu Akbar… 

Ide adzan ini dari ibuku, ibuku dari mbah kakung. Beliau adalah imam masjid… Mungkin sebenarnya tidak harus adzan dan bisa hanya takbir biasa… tapi dengan adzan, diharapkan manusia ingat kepada Allah… tidak hanya di waktu-waktu sholat…

Wallahu a’lam… aku hanya sekedar mengingatkan diri sendiri dan berbagi pengalaman…

  

Tinggalkan komentar

Filed under Uncategorized

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s