You are currently browsing the monthly archive for Juni 2009.
Buanyaaaakkkkkk.
Permainan yang sedang digandrungi (halahhh bosonee) Alfis saat ini. Buka-tutup. Apapun yang bisa dibuka-tutup, Alfis menunjukkan ketertarikannya. Diapain? Yaa.. dibuka-tutup sama dia.
Misalnya, lemari. Di rumah ada lemari kaca yang tutupnya ga terlalu rapet. Alfis tadinya ga bisa buka itu lemari. Eeh sekarang udah mahir dia buka-tutup itu kaca.
Lain soal, boks atau kotak penyimpan. Entah gimana awal mulanya, Alfis bisa buka boks bekas modem. Nah,di dalem boks itu ada boks lain yang ada plastik2 bekas kemasan elektronik. Kedua boks itu udah terbuka di kamar. Plastiknya juga udah berantakan. Padahal termasuk susah lho buka boks itu.
Alfis punya mobil2an pemadam kebakaran. Damkar (hihi inget kasus korupsi damkar di tipi). Di mobil2annya itu ada semacam tempat penyimpan. Macem bagasi gitulah. Nah dia paling seneng tuh buka-tutup kapnya. Kalo ada barang atau mainan yang bunda simpen disitu, Alfis dengan senang hati akan mengeluarkan semuanya. Naaa bunda kebagian masukin lagi.
Sampai saat ini, alfis sedang mencoba buka-tutup pintu. Dia belum bisa. Tapi nanti kalau udah bisa, alamat bunda harus kunci pintu kamar. Kalo ngga, berabe. Bisa kejepit.
Dipikir-pikir… Rumah ini banyak bahayanya buat Alfis. Harus beres-beres lagi nih.
Buka-tutup. Buka-tutup. Buka… Belum tentu ditutup lagi, kalo udah bosen. Kalo udah bisa ditanyain;
Bunda: “Yang kebagian nutup siapa Alf?”
Alfis: “Bundaaaa..”*sambil ngacir naik baby walker*
Judulnya umum banget ya?
Meskipun begitu, tetap aja memang perlu banyak-banyak dikumandangkan. Dan banyak ditularkan. Karena memang ga mudah memberikan ASIX untuk bayi selama 6 bulan pertama kehidupan. Apalagi anak pertama.
Banyak cerita teman yang tidak sukses memberikan ASIX. Alhamdulillaah banyak juga yang sukses. Alf alhamdulillah sukses. Di tulisan yang lalu aku pernah mengulas pengalamanku menyusui Alfis.
Sekarang kepikiran untuk nulis tentang ASI lagi karena Alf masih butuh hingga dua tahun. Pelajaran tahap dua setelah wisuda ASIX. Berbagi pengalaman menyusui.
Saat ini, Alf sudah mulai tumbuh gigi. Nyusu ASI pun masih kuat banget. Apalagi sekarang panas bener cuacanya. Apa kendalanya? Alf mulai gigit puting bunda. Apalagi kalo lagi gatel gusinya.
Selain gigit puting, karena polahnya udah macem2, terkadang narik puting pake mulutnya. Kalau udah gitu, bundanya meringis deh. Selain itu, alf sekarang kalo nyusu posisinya macem2. Mulai dari tengkurep, nungging, miring, duduk, dll deh. Geleng2 deh lihat polahnya.
Belum lagi kalo lagi nyusu, tangannya usil. Uwik2 mulut bunda ampe sariawan, nyakar pipi atau kelopak mata, uwik2 hidung bunda ampe berdarah, atau nyakar lengan bunda. Sebetulnya bukan nyakar. Alf hanya ingin tau permukaan kulit bunda. Tapi kukunya itu lho tajem banget. Padahal udah dipotongin tiap tiga hari sekali. Udah dikikir, dialusin kaya meni-pedi, tetep aja tajem kukunya.
Selama ini aku fine2 aja. InsyaAllah bisa istiqomah ngasih ASI untuk Alf dan MPASI yang bergizi. Aamin.. Caiyoooo
Bagi bunda Alfis,menyempatkan Me-Time yang paling longgar adalah waktu sepertiga malam terakhir.
Saat Alfis sudah terlelap. Ayahnya juga terlelap. Dan Bunda juga sudah tidur sedari Isya bersama Alf.
Selain itu, laptopnya ayah lagi nganggur. BB-nya juga nganggur. Saat yang tepat untuk ngeblog, sambil leha-leha. Atau benar-benar menikmati dini hari.
Sejenak menikmati, sebelum memulai lagi rutinitas as a full time mom (Bahasa campur Gaya Cinta Laura n manohara.. Wkwkwk).
Ayo recharge energy!
Membaca dari blog tetangga, mama Azki, ada kerabat yang tidak ingin memberikan imunisasi anaknya karena katanya, ada enzim babi di vaksin.
Opini saya, yang diharamkan dalam AlQuran adalah “makan daging babi”. Sudah tersurat. Selain itu, yang perlu dicari lagi informasinya adalah teknologi produksi vaksin tersebut.
Mungkin benar, membutuhkan enzim dari tubuh babi untuk perbanyakan vaksin. Tapi bisa jadi itu mungkin penelitian awal. Saat ini teknologi biokimia, mikrobiologi, sudah berkembang.
Bisa saja, enzim babi yang dimaksud disintesa. Maksudnya dibuat atau dihasilkan secara mikrobiologi dalam sel-sel mikroba. Sederhananya, enzim tersebut bukan benar-benar dari sel babi. Tapi hanya tiruannya saja.
Saya juga masih belum mencari info lebih lanjut mengenai proses produksi vaksin. Tetapi kalau memang iya enzim yang diambil adalah dari babi, harus dilihat juga apakah enzim itu memang ada dalam vaksinnya atau tidak. Siapa tahu hanya bertindak sebagai katalisator dalam proses produksi.
Tapi kalau memang ada enzim babi yang ditambahkan dalam vaksin, dan masih belum ada penggantinya, saya rasa itu sah saja demi kesehatan. Dan tak usah terlalu kaku-laahhh (mode on: cincai laahhh).
Kita kan memanfaatkan enzimnya si babi. Bukan makan daging babi. Kalau memang mau bukan dari babi, ya dikembangkan dong penelitiannya di Indonesia. Lagipula, kalau terlalu kaku, salah-salah bisa spt bani Isroil di surat AlBaqoroh. Tapi kalau untuk membahas yang satu itu, ga beraniii. Bukan ahlinyaaaa..

Komentar Terakhir