Feeds:
Tulisan
Komentar

Ngempongnya Lamaaaaa

Akhir-akhir ini Alf kalo ngempong lama. Bisa sampe satu atau dua jam. Dia seperti ga mau melepas mulutnya.
Seringkali, aku coba paksa lepas. Karena dia udah tidur. Udah merem tepatnya. Tapi ternyata, dia teriak. Sambil cari2 puting.
Tapi kadang, dia anteng aja meski dipaksa dilepas.

Kenapa ya? Seperti sedang butuh ketenangan yang lebih dari bundanya. Apa yang kira-kira ingin dilakukannya ya? Kemampuan macam apa hingga ia butuh “ngempong” selama itu. Hmmm seperti kembali lagi saat baru lahir.

Selamat Tahun Baru 2010

Selamat Tahun Baru!!!

Baru nge-blog lagi nih. Tepatnya, baru log-in lagi ke dunia internet.

Soale, beberapa hari yang lalu belon bayar speedy. Trus beberapa hari berikutnya modemnya anjlok. Alias rusak. Baru ini dapet kesempetan nge-net via mobile.

Semoga di tahun ini, kita semua menjadi manusia yang jauuuh lebih baik. Aamin.

Okelah kalo begitu..

Radang Tenggorokan

Seminggu yang lalu, Alfis demam. Diagnosa awal bunda, Alfis sekedar lelah. Karena hari Minggu sebelumnya, Alfis jalan-jalan dari pagi sampai malam.

Berangkat dari rumah pagi, menuju ke FX-Plaza. Nganterin Ayah liputan. Saat itu, Alfis sebetulnya udah muntah. Bunda kira, dia hanya kedinginan. AC di FX-plaza dingin banget (coz saat itu juga lagi hujan). Siangnya, Alfis ke senayan, niatnya mau lihat pameran ‘GreenFestival’-nya Kompas, MetroTV, dkk. Tak disangka tak dinyana… (halah) HUJAN! Deres banget lagi. Mana udah gitu, kain gendongan Alfis kotor kena muntahan. Ga bawa kain cadangan pula.

Ketika itu, Bunda udah merasa bersalah banget. Karena Alfis tidur ga diselimutin. Tidurnya pun di bawah, di mushola dadakan (tenda). Hujan deras pula. Alfis tidur dari siang jam dua-an sampai ashar. Berasa lapar, kita pun mau cari tempat makan yang nyaman. Yang hangat. Saat mau naik busway (harapannya bisa nyaman) ternyata penuh. Akhirnya cari arah busway yang sebaliknya (menuju blok M). Sampai di Blok M, udah sore banget. Harus solat Ashar dulu baru makan.

Setelah makan, langsung Maghrib di masjid baru di Pasaraya. Karena masjid-nya ada di lantai 5, kita sekalian mampir beli baju hangat untuk Alfis (karena kita ga bawa). Duh bener-bener minim persiapan. Karena niat awalnya memang ga lama-lama, maunya sih hanya sebentar. Dan tidak mengira akan hujan seharian.

Esoknya, Alfis demam. Bunda hanya beri T*mpr* untuk menurunkan panasnya. Karena bawang merah saja ga mempan. Tapi, sampai tiga hari demamnya tidak reda. Panasnya naik-turun. Tidak batuk. Tidak pilek. Susah makan. Lidahnya pucat, putih. Dan sering membuka-buka mulutnya seakan ingin muntah atau ada yang ingin dikeluarkan. Aaah ngerasa bersalah bunda. Penginnya bunda aja yang sakit. Kata dokter, Alfis kena radang tenggorokan.

Bunda searching, googling tentang radang tenggorokan. Ini dia nih hasilnya.

“Anak & Bayi bisa sangat sering terserang infeksi saluran napas atas,
termasuk radang tenggorokan dan ternyata sekitar 90% dari kasus radang
tenggorokan yang disertai hidung berair, demam, dan nyeri telinga
disebabkan oleh virus! Bakteri menjadi penyebab dari 10% kasus
sisanya. Karena hampir seluruh kasus disebabkan oleh virus, maka
antibiotik biasanya tidak diperlukan. Infeksi oleh virus (misalnya:
batuk-pilek, radang tenggorokan) sesungguhnya tidak bisa disembuhkan
dengan antibiotik. Infeksi virus akan sembuh dengan sendirinya, tubuh
akan melawan dengan sistem kekebalan tubuh (imunitas). Penggunaan
antibiotik yang berlebihan justru akan merugikan karena akan membuat
anak menjadi resisten dan antibiotik menjadi tidak mempan untuk
melawan infeksi saat dibutuhkan.”

Beberapa link yang dijadikan rujukan:

http://www.mail-archive.com/dokter_umum@yahoogroups.com/msg05556.html

http://www.bayisehat.com/immunization-mainmenu-36/326-radang-tenggorokan.html

http://dranak.blogspot.com/2009/03/obat-radang-tenggorokan.html

Setelah membaca, menimbang, dan seterusnya… diputuskan bahwa Alfis memang tidak butuh Anti-biotik dari dokternya. Bunda hanya beri obat BP5-nya aja. Alhamdulillaah Alfis sekarang udah ga panas. Dan nafsu makannya mulai membaik. Tapi pencarian Bunda menemukan dokter anak yang anti AB dan asik diajak sharing masih berlanjut.

Inilah pengobatan alternatif/tradisional untuk radang tenggorokan yang diambil dari rujukan:

Gunakan minyak oles/usap/gosok yang mengandung bahan baku utama minyak
kelapa (cocos nucifera) atau biasa dikombinasikan pula dengan kayu
putih, cengkeh dll. Untuk bayi pilihlah yang tidak terlampau keras
atau tidak menyebabkan iritasi kulit.

Cara pemberian adalah dengan mengoleskan pada beberapa titik limfatik
diwaktu sebelum tidur.

Titik yang dioleskan adalah :
1. Dibalik kedua lutut
2. Dikedua ketiak
3. Dikedua pelipis
4. Dioles tipis dari kedua belakang daun telinga bawah (persis
ditempat biasanya lubang anting) sampai leher
5. Di dada atas dekat leher
Boleh juga ditambah pada lipatan paha, namun biasanya agak kerepotan
untuk bayi yang kerap menggunakan popok bayi (diapers) untuk buka
pasangnya.

Pengolesan minyak kelapa ini baik juga dilakukan dikala sehat sehingga
imunitas dan pertumbuhan bayi & anak yang lebih baik. Tips di atas juga dapat diaplikasikan pada orang dewasa.

Bunda jadi berpikir, untuk sedia minyak VCO (virgin coconut oil). Minta eyang-nya Alfis aahh… :)
Eyang ‘kan rajin bikin VCO. Hehehe.

Ganti Tampilan

Bosan dengan tampilan yang lalu, nyoba tampilan lain. Header juga diganti foto Alfis-Ayah-Bunda. Tapi sayangnya, Ayah lagi Gondezzz. Ya besok-besok kalo ada foto yang lebih bagus, headernya diganti lagi.

Blog-nya jadi mode narsis[dot]com… huehehe.

Beli Rumah

Sejak lama, sebelum Alfis lahir, udah kepikiran terus pengin beli rumah. Selalu aja kepentok dengan kepentingan keluarga.

Kepenginnya, punya rumah sendiri, tetangga baik, keamanan terjaga, tidak banjir, akses transportasi mudah, akses tempat umum juga mudah. Visualisasinya, seperti rumah di jatiwaringin yang ada di dalam komplek.

Kenapa di dalam komplek? Alasan utamanya supaya mudah mengontrol tempat main dan interaksi Alfis. Kalo di komplek, jalan komplek tidak terlalu ramai. Dan ada taman tempat bermain. Tetangga pun ga terlalu deket banget. Harapannya privacy terjaga. Tidur pun nyenyak.

Hanya saja, impian itu terbentur dengan kepentingan keluarga. Kalau rezeki, aku yakin pasti ada jalannya. Tapi, yang membuat tidak yakin adalah keinginannya orang tua.

Eyangnya Alfis, penginnya rumah ini ada yang nungguin (yakni aku dan keluarga), supaya kalau sewaktu-waktu beliau ke Jakarta, masih ada rumah untuk ‘pulang’. Begitu pun adikku yang masih kuliah di Bandung. Dan begitu pula kakakku.

Aku secara subjektif, sering tidak terima (di dalam hati dan pikiran) keadaan tersebut. Karena aku sejujurnya kurang betah disini. Sebetulnya keegoisan ini tidak boleh dipelihara. Tapi aku merasa area privacy sangat kurang disini.

Aku ga bisa bebas ga pake jilbab di halaman samping rumahku. Karena pasti kelihatan tetangga. Aku juga tidak bisa bebas di ruang depan dengan pintu terbuka. Karena kalau pintu depan terbuka, pasti terlihat dari jalan apa yang sedang dilakukan di dalam.

Karena jarak tetangga cukup dekat, kalau ada yang sedang ngobrol (meskipun di dalam rumah mereka) pasti terdengar. Aku sering merasa terganggu. Apalagi kalau ada yang ribut-ribut. Amat sangat terdengar di rumah. Aku jadi tidak merasa seperti berada di ‘rumah’. Jarang aku bisa tidur nyenyak. Sering aku terbangun atau terusik kalau ada suara. Meski hanya suara berbisik. Apalagi kalau suara keras.

Kadang, tetangga juga suka karaoke. Atau mengobrol cukup intens dengan kawan-kawannya. Di rumah pasti terdengar. Aku sebenarnya ingin sekali mengabaikannya dan tidur. Tapi sering tidak bisa. Aku sering tidak bisa tidur nyenyak karena gelisah.

Suamiku sering menasehatiku kala aku curhat soal tempat tinggal. Dan berulang kali juga suamiku mengingatkan, membesarkan hati, dan tak bosan mendengar keluhanku.

Tapi sampai saat ini aku tetap saja berkeluh. Hanya saja kini aku berkeluh via blog. Aku benar-benar ingin pindah dari sini. Dan beli rumah baru yang sesuai visi-ku. Secepatnya.

hhhhhhh

Tulisan Sebelumnya »